Breaking News:

Kisah Disabilitas Asal Purwoasri Kediri, Tetap Mandiri Meski Usaha Terpuruk Karena Pandemi Covid-19

Keterbatasan bukan jadi penghambat oleh Samin Warga Desa Dayu Kecamatan Purwoasri Kabupaten Kediri

Penulis: Farid Mukarrom | Editor: Januar
TribunJatim.com/ Farid Mukarrom
Pria asal Kediri yang sukses buka usaha di masa pandemi 

Reporter: Farid Mukarrom | Editor: Januar AS

TRIBUNJATIM.COM, KEDIRI- Keterbatasan bukan jadi penghambat oleh Samin Warga Desa Dayu Kecamatan Purwoasri Kabupaten Kediri.

Samin diketahui sejak usia kecil 6 tahun telah alami sakit polio yang memaksanya menjadi pria dewasa dan mandiri.

Berkat kemandirian itu membuatnya menjadi pengerajin mainan kuda dari kayu. 

Usaha yang dilakukan Samin ini tak didapatkan secara instan. Melainkan sebelumnya ia diajari tetangganya yang merupakan pengerajin kayu.

Ketua PHRI Tuban Sebut Hotel Lebih Terpukul Dibanding Restoran di Masa Pandemi

Kepada SURYA.CO.ID Samin menuturkan bahwa hasil karyanya ini sudah ada sejak 24 tahun lalu.

"Awalnya di ajak pak Talkim orang malang, diajari buat mainan. Hingga akhirnya saya buat sendiri dan yang bagian pasarkan di Kediri dan Malang itu pak Taklim," ujarnya.

Berkat usaha yang dijalani oleh Samin, saat itu ia mampu mempekerjakan 7 orang tetannganya untuk jadi pengerajin kayu.

"Kalau dulu sebelum pandemi sehari bisa produksi 100 lebih mainan kayu. Karena permintaan selalu banyak," ucap Samin.

Untuk harga yang dipatok oleh Samin berkisar mulai 25 ribu hingga termahal mencapai 175 ribu.

"Banyak yang pesan dari Surabaya dulu bisa sampai 200 an. Tapi sekarang karena di THR Surabaya sudah tutup jadi gak ada pesanan ke sana lagi," katanya.

Untuk bahan baku yang digunakan oleh Samin adalah kayu randu yang diambil langsung dari Desanya.
"Alhamdulillah kalau bahan baku tak pernah kurang. Biasanya saya minta orang yang kerja sama saya ambil randu di dekat rumah," tutur Samin.

Namun saat ini kondisi pandemi Covid-19 telah membuat usahanya tak lagi jalan. Pasalnya banyak sekolah dan tempat wisata yang tutup. Sehingga penjualan mainan kayu kuda jaranan miliknya tak banyak dibeli oleh masyarakat.

"Sekarang sekolah tutup tempat wisata juga, jadi otomatis orang tak ada yang mau beli. Kalau awal Maret sampai April masih ada yang order. Tetapi setelah itu saya tak buat lagi, nunggu sampai ada yang pesan," ungkapnya.

Ia mengaku tak bisa menerima pesanan satuan, karena akan membebankan biaya produksi.

"Kalau buat satu atau dua tentu saya rugi untuk bayar karyawan. Kemarin orderan paling sedikit itu 15, itupun 2 bulan lalu," tutur Samin.

Akan tetapi dengan kesulitan saat ini, tak membuat dirinya menyerah dengan keadaan. Ia mengaku beralih profesi memelihara sapi dan ayam yang diternaknya beberapa bulan sebelum pandemi Covid-19.

"Kalau pagi cari rumput di sawah, sama bersihkan kandang ayam," kata Samin.

Samin membuktikan dengan kesulitan selama pandemi Covid-19 ini tak membuatnya menyerah dan mengandalkan belas kasihan orang.

"Saya gak mau ngemis, selagi saya mau berusaha, kaki tangan masih kuat. Tentu saya akan kerjakan semampu saya. Kemarin pak Wing (Kadinas Pariwisata) sempat ke sini menawarkan bantuan dan ajak saya ikut kerja di Pemkab. Tetapi saya tolak karena saya masih bisa berusaha dengan badan saya sendiri," tandasnya.

Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved