Breaking News:

Agar Bisnis Bisa Cuan, Ini Lima Hal Penting yang Harus Dipersiapkan Pendiri Start Up

Membangun start up tidak hanya cukup dengan bermodalkan ide bisnis yang telah tervalidasi serta memecahkan permasalahan masyarakat, atau niat

Istimewa/TribunJatim.com
Achsania Hendratmi 

Reporter: Fikri Firmansyah | Editor: Januar AS

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYAMembangun start up tidak hanya cukup dengan bermodalkan ide bisnis yang telah tervalidasi serta memecahkan permasalahan masyarakat, atau niat dan mental tahan banting yang kuat saja.

Masih terdapat banyak hal yang perlu dipersiapkan oleh seseorang yang ingin mendirikan start up, agar bisnisnya bisa sukses dan menghasilkan cuan yang banyak.

Ketua Bidang Inkubator Bisnis dan Teknologi di Badan Pengembangan Bisnis Rintisan dan Inovasi (BPBRIN) UNAIR, Dr. Achsania Hendratmi, SE atau yang akrab disapa Achsania menjelaskan hal-hal yang perlu dipersiapkan dalam mendirikan startup, di antaranya yang pertama adalah anggota tim yang baik.

Menurut Achsania, memilih tim menjadi hal krusial dalam membangun start up.

Anggota tim yang baik adalah anggota dengan kompetensi yang sesuai dengan fungsi dan bidang kerjanya, memiliki visi yang sama, dapat membangun komunikasi dan koordinasi yang baik, dan memastikan bisnis rintisan atau start up dijalankan dengan kerja tim yang baik.

Baru Seminggu Menikah, Pria Ini Kembali Masuk Bui di Gresik Gara-gara Narkoba

“Hal yang umum terjadi dalam business matching dengan investor atau angel capital seringkali perihal komposisi tim menjadi perhatian penting,” kata Achsania, Minggu (14/2/21).

Untuk yang kedua adalah model bisnis.

Model bisnis atau business model adalah kegiatan menyusun suatu tahapan atau kerangka bagaimana suatu bisnis menciptakan revenue.

Business model seringkali digunakan untuk penyederhanaan business plan.

Menurut Achsania, tren start up saat ini adalah menyusun business model dengan menggunakan metode BMC (Business Model Canvas). 

“Business model bukanlah suatu kerangka yang permanen. Pebisnis harus terus memperbaiki model bisnisnya seiring dengan perubahan-perubahan eksternal yang cepat,” ucapnya.

Ketiga, menyiapkan financial projection.

Permasalahan yang sering terjadi pada mahasiswa yang merintis start up adalah paradigma ‘jalan dulu saja, kalau sudah besar baru buat proyeksi keuangan’.

Kendati demikian, menurut Achsania, paradigma tersebut kurang tepat karena memulai start up di tahap awal juga perlu mempersiapkan financial projection atau proyeksi keuangan.

Financial projection biasanya terdiri dari forecast neraca, laporan rugi-laba, dan forecast arus kas.

Selain itu, hal yang paling penting adalah analisa investasi untuk mengetahui break event point (BEP), payback period, dan perhitungan yang lain.

“Dalam beberapa kasus saya sering menemui start up UNAIR yang tidak menyiapkan financial projection dengan alasan tidak ada tim dari anak ekonomi atau akuntansi. Oleh karena itu ketika menyusun tim sebaiknya Chief Executive Officer (CEO) mempertimbangkan benar-benar untuk merekrut Chief Financial Officer (CFO) untuk mengurus aspek keuangan bisnis,” jelas Achsania.

Keempat, menyiapkan intellectual property.

Kata Achsania, persiapan intellectual property seringkali dilupakan atau bahkan tidak terpikirkan oleh para pendiri start up khususnya mahasiswa.

Hal tersebut karena menurut mereka, bisnisnya masih kecil sehingga tidak perlu ada badan hukum dan tidak perlu memikirkan paten untuk formula atau temuan tertentu.

Menurut Aschania sendiri, persepsi tersebut adalah hal salah.

Ia mengatakan, jika memang serius membangun start up maka intellectual property atau HAKI harus diperhatikan.

“Sederhananya, bagaimana badan hukum perusahaan? CV atau PT? Apakah merek produk sudah didaftarkan?,” lanjutnya.

Hal tersebut penting diperhatikan terlebih oleh CEO start up.

CEO perusahaan pemula harus berpandangan jauh ke depan terkait melindungi bisnisnya.

Intellectual property itu sendiri biasanya meliputi copyrights, trademark, patent, trade secret dan lain sebagainya.

"Selain itu, Intellectual property juga merupakan business tools yang penting terutama untuk memperkuat keunggulan kompetitif dan  melindungi bisnis ke depan," imbuhnya.

Kelima, memiliki link kepada mentor, inkubator bisnis, dan akselerator.

Perusahaan rintisan atau pemula juga membutuhkan mentoring dari mentor-mentor yang tepat.

Hal itu karena karena pada umumnya perusahaan pemula sangat rentan terhadap kegagalan atau kebangkrutan terutama di fase awal pendirian.

"Terkait hal tersebut, maka lembaga inkubator bisnis teknologi memiliki peran sangat penting. Melalui inkubator atau  akselerator, pendiri start up akan semakin mudah membangun network, bertemu dengan investor, akses pendanaan, akses pasar, dan lain sebagainya," paparnya.

Penulis: Fikri Firmansyah
Editor: Januar Adi Sagita
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved