Breaking News:

Klaim Kenaikan Kesejahteraan Pedagang Pasar Sayur Batu Tidak Terbukti

Klaim kenaikan kesejahteraan pedagang Pasar Sayur Batu setelah setahun revitalisasi pasar tidak terbukti.

SURYA/SANY EKA
Pedagang berjualan dengan menempati bedak baru di Pasar Sayur Batu. 

Reporter : Benni Indo | Editor : Yoni Iskandar

TRIBUNJATIM.COM, BATU – Klaim kenaikan kesejahteraan pedagang Pasar Sayur Batu setelah setahun revitalisasi pasar tidak terbukti.

Kepala UPT Pasar Sayur, Agus Suyadi sempat mengatakan kalau kesejahteraan pedagang meningkat antara 5 persen hingga 10 persen.

Namun Agus tidak dapat menunjukan data yang mendukung pernyataannya tersebut. Saat ditemui di ruang kerjanya, Agus justru menunjukan surat keterangan identitas pedagang dan jumlah dagangannya.

Agus tidak menunjukan data yang dapat menjelaskan tentang kenaikan kesejahteraan pedagang. Padahal, sehari sebelumnya ia telah menjanjikan akan memberikan data pendukung pernyataannya.

Agus mengatakan peryataan peningkatan kesejahteraan pedagang antara 5 sampai 10 persen itu berdasarkan hitung-hitungannya sendiri. Sumbernya berasal dari laporan kegiatan pengiriman barang ke luar daerah.

“Karena dengan adanya pengiriman ini imbasnya ke kuli panggul. Kan, mereka kerja terus jadi ada pendapatan,” kata Agus, Rabu (17/2/2021).

Baca juga: Terkendala Anggaran Covid-19, Kantor Gedung SD Negeri di Pulau Bawean Gresik Nyaris Ambrol

Baca juga: Bupati Jember Faida Resmi Lengser, Tak Ada Yang Perlu Ditangisi dan Disesali

Baca juga: Panen Tangkapan, Kapolres Lumajang Dihadiahi Bunga Mawar Bupati Thoriq

Agus beralasan hal lain, yakni buruknya administrasi pendataan. Ia mengaku baru menjabat sebagai Kepala UPT Pasar Sayur per Agustus 2020. Banyak hal yang harus ia rapikan, termasuk pendataan.

“Data ada, tapi amburadul. Maksudnya, ada datanya, belum teradministrasi dengan baik. Akhirnya kan menata lagi sedari awal,” jelasnya kepada TribunJatim.com.

Pernyataan Agus berbanding terbalik dengan Ketua Paguyuban Pasar Sayur, Agus Yulianto. Ia mengatakan kalau kondisi kesejahteraan pedagang tidak berubah. Jadi, antara pasar sebelum dibangun dengan sesudah dibangun, tidak ada bedanya bagi pedagang. Secara ekonomis, sama saja.

“Ya bedu. Saya rasa masih tetap saja, tidak ada perubahan. Kalau masalah ramai dan tidak, sebenarnya dari pedagang sudah berusaha ke pasar. Tinggal pemerintah bagaimana meramaikan pasar. Kami sebagai pedagang hanya mengikuti alur saja,” ungkap Agus.

Agus mengemukakan, belum ada program yang secara spesifik diberlakukan oleh Pemerintah Kota Batu untuk meramaikan Pasar Sayur. Justru, upaya untuk meramaikan pasar datang dari pihak luar, yakni Himpunan Pengusaha Muda Indonesia atau Hipmi.

Berdasarkan data BPS Batu, penduduk miskin (P0) Kota Batu selama 2 tahun terakhir mengalami kenaikan sebesar 0.08 poin dari tahun 2019 sampai dengan tahun 2020. Pada tahun 2019 sebesar 3,81% atau 7.890 penduduk miskin, kemudian pada tahun 2020 sebesar 3,89% atau 8.120 penduduk miskin.

Kenaikan angka Kemiskinan Kota Batu ini ada kecenderungan mengikuti trend di tingkat Provinsi Jawa Timur, maupun nasional. Hal ini mengindikasikan bahwa Pemerintah Kota Batu harus bekerja keras lagi menurunkan angka kemiskinan melalui program-program kemaslahatan maupun program-program lainnya kepada TribunJatim.com.

Penulis: Benni Indo
Editor: Yoni Iskandar
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved