Breaking News:

Gus Baha : Sedekah Itu Sesekali Perlu Dilakukan Secara Terang-terangan, Penjelasannya ini

Gus Baha yang kelahiran 1970 itu mengasuh Pondok Pesantren Alquran di Kragan, Narukan, Rembang, Jawa Tengah tengah naik daun dua tahun belakangan ini.

yoni Iskandar/Tribunjatim
Gus Baha bersama para muhibbin (pecintanya) serta para santri 

Penulis : Yoni Iskandar | Editor : Yoni Iskandar

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Gus Baha yang kelahiran 1970 itu mengasuh Pondok Pesantren Alquran di Kragan, Narukan, Rembang, Jawa Tengah tengah naik daun dua tahun belakangan ini.

Santri kesayangan almarhum KH Maimoen Zubair ini tersohor karena memiliki pengetahuan mendalam tentang Alquran.

Gus Baha sejak kecil sudah mendapat ilmu dan hafalan Alqran dari ayahnya, KH. Nursalim Al-Hafidz. Maka tidak heran apabila Gus Baha menjadi ahli tafsir Alquran. Sehingga sangat diidolakan anak-anak muda atau yang biasa disebut kaum milenial.

Metode ceramah Gus Baha yang menggunakan bahasa-bahasa sederhana dan menyejukkan hati juga membuat kyai yang murah senyum itu dikagumi semua kalangan.

Gus Baha yang sejak kecil sudah mondok dan berkhidmat kepada Syaikhina KH. Maimoen Zubair di Pondok Pesantren Al Anwar Karangmangu, Sarang, Rembang, sekitar 10 km arah timur Narukan tersebut yang sering memakai peci dengan menjulurkan rambut ke depan itu menyebut bahwa apa yang disedekahkan itulah yang abadi.

"Suatu ketika, jatah makan Nabi Muhammad saw diberikan oleh Siti Aisyah, istrinya, kepada orang lain. Wahai Aisyah, makanan jatah saya di mana?" tanya Nabi, sebagaimana ditirukan Gus Baha.

"Wahai Rasulullah, tadi ada orang minta. Lalu, saya berikan. Makanan itu habis."

Apa kata Rasulullah saw?

"Kamu salah, `Aisyah. Yang kamu kasihkan itu justru yang masih."

Halaman
1234
Penulis: Yoni Iskandar
Editor: Yoni Iskandar
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved