Breaking News:

Banjir Kembali Landa 49 Desa di 6 Kecamatan di Lamongan, Warga Klaim Jalan Desa yang Kebanjiran

Musibah banjir yang dialami ribuan warga di 49 desa yang tersebar di 6 kecamatan di Lamongan Jawa Timur hingga kini belum berakhir

surya/Hanif Manshuri
Sejumlah wilayah dan jalan desa yang sudah 3 bulan lebih kebanjiran, Senin (15/3/2021) 

TRIBUNJATIM.COM, LAMONGAN - Musibah banjir yang dialami ribuan warga di 49 desa yang tersebar di 6 kecamatan di Lamongan Jawa Timur hingga kini belum berakhir dengan ketinggian air bervariasi.

Bahkan jalan desa yang tergenang hingga 3 bulan lebih ini sebagian diklaim warga sebagai lahan pemeliharaan ikan yang tidak boleh dipancingi.

Hujan deras yang mengguyur Lamonga dalam beberapa hari ini menambah ketinggian air di puluhan desa tersebut.
Data terbaru, banjir telah merendam 49 desa di 6 kecamatan diantaranya, Kecamatan Kalitengah, Turi, Glagah, Karangbinangun, Deket dan Karanggeneng. Di ke 6 kecamatan ini, Glagah menjadi kecamatan dengan jumlah desa terendam banjir paling banyak, yaitu mencapai 15 desa.

"Banjir lagi, setelah sebelumnya sudah sempat surut," kata Soir, salah satu warga Kecamatan Kalitengah pada wartawan, Senin (15/3/2021).

Ketinggian air yang menggenangi jalan akibat banjir luapan sungai Bengawan Njero inipun bervariasi antara 25 cm hingga 85 cm. Bahkan, ada juga jalan yang terendam hingga 1 meter sehingga menyebabkan banyak kendaraan bermotor yang mogok karena nekat melalui jalan yang terendam banjir tersebut.

Baca juga: Ramalan Cinta Zodiak Selasa 16 Maret 2021: Aries Hindari Hal yang Buat Sakit Hati, Cancer Lebih Peka

Baca juga: Gus Baha Soal Pandemi Covid-19, Jangan Terlalu Gelisah dan Takut Berlebihan

Grand Opening Gerai Indosat Ooredoo Nganjuk, Beri Diskon 50 Persen Untuk Smartphone Impian

"Banjir kali ini merupakan banjir terparah jika dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Air kiriman dari daerah selatan dan curah hujan juga tinggi," katanya kepada TribunJatim.com.

Kini muncul sindiran yang dilakukan warga dengan memasang papan bertuliskan "Dilarang Mancing, Kali Tebasan Bapak Umar". Padahal yang itu sejatinya jalan desa yang kebanjiran.

Kabag Prokopim Pemkab Lamongan, Arif Bachtiar mengungkapkan, banjir dengan ketinggian air ada yang mencapai 1 meter itu merupakan banjir susulan sejak Desember 2020 lalu.

Setelah banjir, masih kata Arif, yang terjadi Desember lalu, air sebenarnya mulai surut dan ketinggiannya mulai turun. Namun karena cuaca ekstrem dan hujan deras yang merata di wilayah Lamongan sejak beberapa harga ini kembal terjadi banjir susulan.

Upaya petugas mengalami kendala dalam menyalurkan pembuangan air karena Bengawan Solo juga tinggi sehingga pintu air tidak bisa dibuka.

Pemkab sudah mengaktifkan semua pompa dengan kapasitas 500-1000 kubik/detik yang ditempatkan di dua titik.
Semua pompa air sudah lama diaktifkan dan kedepan dilakukan peningkatan dan optimalisasi daya tampung embung, rawa dan saluran. Termasuk melakukan komunikasi lintas kabupaten, seperti dengan Bojonegoro, Tuban dan Gresik.

Penulis: Hanif Manshuri
Editor: Yoni Iskandar
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved