Kelulusan Siswa SMP Ditentukan Sekolah, Dindik Ponorogo Sediakan Bank Soal untuk Jaga Mutu Lulusan

Dinas Pendidikan Kabupaten Ponorogo menyediakan bank soal yang dirumuskan oleh Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) untuk menjaga standarisasi.

ISTIMEWA/TRIBUNJATIM.COM
ILUSTRASI - Kabupaten Banyuwangi mulai melakukan uji coba pembelajaran tatap muka (PTM) di sejumlah sekolah pada 18 Januari 2021.  

Reporter: Sofyan Arif Candra I Editor: Ndaru Wijayano

TRIBUNJATIM.COM, PONOROGO - Dinas Pendidikan Kabupaten Ponorogo menyediakan bank soal yang dirumuskan oleh Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) untuk menjaga standarisasi soal dan mutu pendidikan.

Hal ini dilakukan lantaran kelulusan setiap siswa ditentukan oleh masing-masing satuan pendidikan atau sekolah.

Hal ini sesuai dengan surat edaran dari Kemendikbud nomor 1 tahun 2021 tentang peniadaan ujian nasional dan pelaksanaan ujian sekolah di masa darurat Covid-19.

Kabid Pembinaan SMP Dinas Pendidikan (Dindik) Ponorogo, Soiran menyebutkan peserta didik dinyatakan lulus apabila menyelesaikan seluruh program di masa pandemi Covid-19.

Lalu memperoleh sikap dan perilaku minimal baik, serta mengikuti ujian yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan atau sekolah

"Perumusan soal ini sebenarnya kewenangan penuh pihak sekolah tapi hasil komunikasi dan kordinasi dengan MKKS (Musyawarah Kerja Kepala Sekolah) dan MGMP kita sediakan bank soal," kata Soiran, Senin (15/3/2021).

Bank soal tersebut dibuat oleh MGMP masing-masing mata pelajaran dalam bentuk master soal yang selanjutnya diserahkan ke seluruh sekolah.

"Sekolah bisa memilih dari bank soal yang disediakan MGMP tersebut," lanjutnya.

Sedangkan kriteria kelulusan ditetapkan oleh sekolah itu sendiri, namun kriteria kelulusan tersebut harus mendapatkan persetujuan terlebih dahulu dari Dinas Pendidikan Ponorogo.

"Karena tidak ada ujian nasional maka SKHUN tidak ada. Nilainya akan dicantumkan di nilai ijazah," kata Soiran.

Pelaksanaan kegiatan ujian sekolah tersebut bisa dilakukan secara luring maupun daring tergantung situasi dan kondisi masing-masing sekolah serta melihat angka penularan Covid-19 di Bumi Reog.

Lebih lanjut, Soiran menjelaskan walaupun standarisasinya terjaga, hasil Ujian Sekolah ini tidak akan dijadikan pedoman untuk melanjutkan ke jenjang berikutnya, baik SD ke SMP, atau SMP ke SMA.

"Standarnya penerimaan peserta didik baru, ada zonasi, afirmasi, perpindahan ortu dan prestasi baik prestasi akademik maupun non akademik," kata Soiran.

"Selain itu bisa juga menggunakan rata-rata rapor lima semester terakhir. Kalau SD ya mulai kelas 4, kelas 5, dan kelas 6 semester 1," pungkasnya

Sumber: Tribun Jatim
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved