Breaking News:

Heboh Cabai Rawit Dicat di Banyuwangi, Ipuk: Itu Tindakan yang Merugikan Petani

Banyuwangi dihebohkan dengan ditemukannya cabai rawit yang dicat warna kemerahan. Kasus ini mendapat perhatian dari kepolisian dan pemerintah Banyuwan

Istimewa/TribunJatim.com
Viral cabai yang dicat warna kemerahan 

Reporter: Haorrahman | Editor: Januar AS

TRIBUNJATIM.COM, BANYUWANGI - Banyuwangi dihebohkan dengan ditemukannya cabai rawit yang dicat warna kemerahan. Kasus ini mendapat perhatian dari kepolisian dan pemerintah Banyuwangi

Kasus ini kini ditangani oleh Polresta Banyuwangi. Ditemukannya cabai yang dicat ini berawal dari unggahan video Agung Prasetyo Hadi (31) pemilik akun Facebook Agung Emfet Putra Blambangan. 

Dalam video tersebut Agung menceritakan neneknya yang bernama Suryati (73) warga Dusun Sidodadi, Desa Karetan, Kecamatan Purwoharjo, Banyuwangi membeli cabai rawit pada pedagang sayur keliling. Dari cabai tersebut keluar cairan berwarna oranye kemerah-merahan dan kental saat dimasak.

Atas munculnya kasus tersebut Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani sangat menyayangkan karena bisa merugikan petani. Dia menegaskan produk hortikultura cabai Banyuwangi mempunyai kualitas yang tinggi.

Baca juga: Bupati Gresik Bersama BBWS Bengawan Solo Bakal Bahas Penanganan Kali Lamong

“Banyuwangi adalah sentra cabai nasional. Terkait viral ada cabai dicat, kami yakin itu hanya oknum yang ingin mengambil keuntungan. Jika itu benar, kita semua menyesalkan. Kita percayakan proses penyelidikannya ke pihak kepolisian," kata Ipuk seusai membagikan bibit cabai ke kelompok wanita tani di Desa Setail, Senin (22/3).

Menurut Ipuk, selain merugikan konsumen, tindakan itu akan merugikan para petani dan pelaku usaha cabai di Banyuwangi. Mengingat Banyuwangi sebagai salah satu sentra cabai di Indonesia. 

"Sebenarnya tidak perlu melakukan hal tersebut, produksi cabai di Banyuwangi sangat berlimpah. Kami yakin, ini hanya kelakuan oknum. Petani Banyuwangi sangat dirugikan dengan tindakan itu. Dan saya yakin itu bukan tindakan petani, karena tidak mungkin petani melakukan hal yang merugikan dirinya sendiri," kata Ipuk.

Dia menambahkan, pihaknya terus mendorong pertanian organik di Banyuwangi. Di setiap kecamatan dibagikan sekitar 800 ton pupuk organik yang digunakan untuk pertanian pangan maupun hortikultura. 

"Termasuk untuk tanaman cabai. Seperti di Wongsorejo yang telah menunjukkan hasil, selain produktivitasnya meningkat juga tanaman lebih sehat dengan pupuk organik," kata dia.

Halaman
12
Penulis: Haorrahman
Editor: Januar Adi Sagita
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved