Breaking News:

Menuju 107 Tahun Kota Malang Peduli dan  Berbagi

Pandemi Covid-19 telah meluluh lantakkan semua tatanan di dunia, tak hanya di Indonesia. Krisis kemanusiaan dan krisis ekonomi menjadi momok serta

Istimewa/ Humas Pemkab Malang
Wali Kota Sutiaji saat meninjau kegiatan belajar siswa menggunakan wifi 

Editor: Januar AS

TRIBUNJATIM.COM, MALANG - Pandemi Covid-19 telah meluluh lantakkan semua tatanan di dunia, tak hanya di Indonesia. Krisis kemanusiaan dan krisis ekonomi menjadi momok serta mengharuskan semua negara mencari rumusan untuk mampu memutus mata rantai serta menghentikan perebakan virus Covid-19.
Tak terkecuali di Indonesia dan didalamnya di kota Malang.

Menghantam kota Malang di awal awal bulan Maret 2020, pandemi covid 19 bergerak tak pandang bulu. Bila pada awal hanya menyasar kelompok lansia yang rentan, memiliki gejala klinis dan komorbid,  pada fase-fase berikutnya ‘momok’ ini tak lagi pandang bulu. Mereka yang masih muda, mereka yang tak memiliki gejala klinis hingga bayi pun bisa terpapar. Sungguh memilukan dan memprihatinkan.

Awal, publik kota Malang tidak percaya, tidak peduli dan enggan (saat itu) mengikuti anjuran 3 M (Memakai Masker, Mencuci Tangan dengan sabun dan Menjaga Jarak), mulai tergugah kala muncul klaster klaster keluarga. Kasus Binor kelurahan Bunulrejo yang memapar hampir semua KK pada satu RT, diikuti munculnya klaster Mergosono, klaster di Balearjosari, Pandanwangi dan yang lainnya, menjadi titik ungkit bangunan kepedulian.

"Sejak awal, saya berpandangan bahwa perlu ada kebijakan "lockdown" saat angka kasus masih kecil tapi sifatnya nasional. Sehingga dapat terukur kapan dimulai dan kapan diakhiri sehingga angka kasus tidak terus membesar jadi bola salju,” tutur Wali Kota Malang Sutiaji merefleksi perjalanan 1 (satu) tahun pandemi covid 19 yang juga berhimpitan dengan jelang ulang tahun kota Malang.

“Pun demikian saat bicara PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar), kota Malang dengan angka kasus (saat itu) masih kecil juga mengajukan untuk PSBB. Namun terkendala karena ada rumusan dari Pusat yang tidak memperbolehkan. Tapi itu lah perjalanan sejarah dan waktu, yang itu semua kita harus ikuti dan lalui, "tuturnya kembali.
Diutarakan pula oleh Sutiaji, dari Kota Malang banyak program kegiatan yang akhirnya menjadi rujukan nasional.
 Seperti pembentukan Kampung Tangguh, itu dibidani dari Malang. PSBB Mikro atau tingkat kelurahan juga awal muncul dari kota Malang yang saat itu terpicu dari klaster Binor Bunulrejo dan klaster Mergosono. Yang ini menjadi spirit sama dengan kebijakan PPKM Mikro saat ini. 

"Ya, karena sejak awal kota Malang menegaskan bahwa ketangguhan itu harus dibangun dari bawah. Dari lingkungan keluarga dan masyarakat terkecil. Garda terdepan adalah masyarakat dan garda terakhir adalah tenaga kesehatan, "tegas Pak Aji, sapaan akrab Sutiaji.

Wali Kota Malang yang juga Ketua Satgas Covid 19 kota Malang ini juga menyampaikan, saat Pemerintah galak menggelorakan kampanye 3 M, dirinya sudah mengembangkan pesan tidak hanya 3 M tapi sudah 4 M dan kini 6 M, yang meliputi Memakai Masker, Mencuci Tangan dengan sabun, Menjaga Jarak, Menjauhi Kerumunan, Membatasi Mobilitas dan Menjaga Imun.

"Kita mengalami turbulensi pandemi covid 19. Merasakan dan mengalami peningkatan kasus yang tinggi, dan dengan situasi yang ada, saat itu saya perkirakan kasus bisa tembus angka 1000, padahal saat itu angka masih dikisaran puluhan. Artinya kita tidak boleh abai, tidak boleh lengah dan harus terus waspada. Karena HUT ke 107 Kota Malang, saya minta temanya Peduli dan Berbagi, "tutur Walikota yang tak jarang diminta khutbah jumat oleh warganya.

Membangun Kepedulian
Dalam penjelasannya Peduli memiliki arti bahwa di tengah tengah guncangan tsunami pandemi covid 19, semua warga dituntut untuk mampu membangun kepedulian. 

Peduli akan melaksanakan gerakan 6 M, peduli bahwa telah banyak dokter serta tenaga kesehatan yang bertumbangan karena covid 19, peduli bahwa covid 19 telah menjadikan ekonomi terpuruk dan peduli akan pentingnya menjaga keutuhan masyarakat dan bangsa dari hantaman krisis saat ini.

Dari Peduli itu pula diharapkan lahir spirit untuk Berbagi. Pandemi covid 19 menghantam semua sektor. 

Anggaran Pemerintah dari Pusat hingga Daerah terkonstraksi. Pelaku usaha terpuruk. Pekerja banyak yang kehilangan pekerjaan. Angka kemiskinan dan kesehatan masyarakat terhantam. Untuk itu, perlu ada spirit saling menguatkan dan saling berbagi.

"Saya bersyukur dan berterima kasih kepada warga kota Malang. Dengan spirit salam satu jiwanya, muncul kepedulian kepedulian untuk saling menguatkan dan berbagi. Dari mulai bentuk ragam donasi, CSR hingga munculnya wadah wadah komunitas yang mampu menstimulus serta menguatkan ekonomi kerakyatan. Inilah wujud konkrit berbagi, "ujar Sutiaji mengapresiasi warganya.
Bakti Bakti Jaya Jaya. 107 Kota Malang, Peduli dan Berbagi.

Editor: Januar Adi Sagita
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved