Breaking News:

Pakar Ekonomi : Relaksasi PPnBM Mobil 2021 Bisa Pulihkan Ekonomi RI

pakar ekonomi dari Unair, Dr. Rudi Purwono, S.E., M.SE, kebijakan relaksasi PPnBM mobil 2021 dan uang muka memang sudah memberikan dampak positif

Tribunjatim.com/Fikri Firmansyah
Konsumen Mitsubishi saat melihat Xpander Cross di diler Sun Star A Yani. Xpander Cross merupakan salah satu mobil Mitsubishi yang terkena PPnBM. 

Reporter : Fikri Firmansyah | Editor : Yoni Iskandar

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Kebijakan relaksasi Pajak Penjualan Barang Mewah atau PPnBM mobil 2021 tidak terlepas pada tujuan untuk membangkitkan pemulihan ekonomi nasional akibat pandemi Covid-19.

Pasalnya, adanya pandemi Covid-19 telah mengakibatkan permintaan dan penawaran barang menurun sangat tajam sehingga perekonomian Indonesia tahun 2020 mengalami kontraksi.

Menurut pakar ekonomi dari Unair, Dr. Rudi Purwono, S.E., M.SE, kebijakan relaksasi PPnBM mobil 2021 dan uang muka memang sudah memberikan dampak positif pada pasar.

Ia menilai, buah positif yang didapat dari kebijakan ini adalah terkait respon cepat terjadi di pasar valuta asing sehingga Kurs Rupiah mengalami penguatan.

“Pelaku pasar melihat bahwa kebijakan perpajakan ini memberikan angin segar bagi perekonomian di tengah pandemi Covid-19. Jadi harapan kepulihan perekonomian nasional semakin besar dan rasa optimistis pun terus tumbuh,” ujar Dr. Rudi, Minggu (4/4/21) di Surabaya.

Baca juga: Takut Dihadang Warga, Pencuri Motor Ceburkan Diri ke Laut di Bawah Jembatan Suramadu

Baca juga: Bioskop di Tuban Diizikan Beroperasi Lagi, Pihak Pengelola Belum Siap

Baca juga: Gressmall Siap Menjadi Lokasi Vaksinasi di Pusat Perbelanjaan Pertama di Gresik

Apalagi, lanjutnya, segmen mobil yang diberi relaksasi merupakan segmen yang diminati kelompok masyarakat kelas menengah, sehingga akan sangat efektif mendongkrak penjualan mobil.

"Bahkan, kehadiran PPnBM mobil 2021 juga akan meningkatkan nilai tambah industri manufaktur dan memulihkan penyerapan tenaga kerja," sambungnya kepada TribunJatim.com.

Dr. Rudi menambahkan, diskon pajak dilakukan secara bertahap sampai dengan Desember 2021 ini tentunya akan memberikan dampak yang optimal.

Itu karena diskon pajak sebesar 100 persen dari tarif normal (PPnBM 0 persen) akan diberikan pada tiga bulan pertama, 50 persen dari tarif normal (PPnBM 50 persen) pada tiga bulan berikutnya, dan 25 persen dari tarif normal (PPnBm 25 persen) pada tahap ketiga untuk empat bulan.

“Dengan demikian, diharapkan Triwulan II Tahun 2021 sudah ada peningkatan Pendapatan Domestik Bruto (PDB) dari sisi pengeluaran terutama konsumsi dan peningkatan PDB dari sisi produksi terutama industri manufaktur serta aktivitas perdagangan,” ungkapnya.

Ia juga menilai, dalam upaya pemulihan ekonomi nasional sendiri Pemerintah terus mewujudkannya dalam berbagai kebijakan terutama dalam mendorong peningkatan konsumsi, produksi, perdagangan dan investasi.

Menurutnya, beragam kebijakan yang dilakukan Pemerintah didalam memulihkan ekonomi nasional dengan fokus mendorong peningkatan konsumsi, produksi, perdagangan dan investasi bukanlah upaya yang sia-sia. Karena meski Indonesia sudah melalui tahun 2020 dengan kontraksi alias kondisi terberat setelah Krisis 1997/1998, namun kondisi Indonesia masih lebih baik dibanding beberapa negara anggota G-20 lainnya.

“Dengan kebijakan yang terintegrasi dalam aspek kesehatan dan ekonomi maka kita optimis tahun 2021 ini perekonomian Indonesia tumbuh lebih baik dan upaya penciptaan lapangan kerja terus dilakukan sehingga pengangguran dan kemiskinan bisa dikurangi,” tandasnya kepada TribunJatim.com.

Berita tentang Relaksasi Pajak Penjualan Barang Mewah

Penulis: Fikri Firmansyah
Editor: Yoni Iskandar
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved