Ramadan 2021

Ibadah Puasa Mengokohkan Kecintaan Pada Allah, Ramadan 'Madrasah Pembentuk Perilaku Kedermawanan'

Prof Dr M Noor Harisudin beber ibadah puasa dan kaitannya dengan kecintaan pada Allah Swt. Ramadan jadi madrasah pembentuk perilaku dermawan.

Editor: Hefty Suud
ISTIMEWA/TRIBUNJATIM.COM
Prof Dr M Noor Harisudin, M.Fil.I, Ketua Komisi Pengkajian, Penelitian dan Pelatihan MUI Jawa Timur dan Dekan Fakultas Syariah IAIN Jember. 

Termasuk bersedekah di bulan Ramadan adalah memberi makan orang miskin.

Orang miskin adalah kelompok masyarakat yang tercecer dari mobilitas sosial sehingga perlu dibantu.

Islam memberi perhatian penuh pada orang miskin, sebagaimana firman Allah Swt.: “Tangkap dan borgol mereka, kemudian lemparkan ke dalam api neraka yang menyala-nyala dan belit dengan rantai tujuh puluh hasta ! Mengapa mereka dihukum dan disiksa dengan terang-terangan itu? Oleh karena mereka ingkar pada Allah yang Maha Besar dan tidak menyuruh memberi makan orang-orang miskin”. (QS. al-Haqqah: 30-34).

Perhatian Islam yang besar pada orang miskin mendorong Abu Darda untuk meminta pada istrinya: “Istriku, Allah mempunyai rantai besi yang selalu menyala membakar periuk neraka sejak ada sampai kiamat nanti. Kita telah bebas dari ancaman separuh neraka itu karena iman kita. Sekarang bebaskanlah diri kita dari ancaman sepatuh lagi dengan mengajak orang-orang lain memberi makan orang-orang miskin”.  

Dus, pada mengakhiri puasa Ramadan, setiap muslim diwajibkan memberikan zakat fitrah.

Nabi Muhammad Saw bersabda: Rasulullah Saw telah mewajibkan zakat fitrah pada bulan Ramadlan bagi orang yang merdeka, hamba sahaya, laki-laki dan perempuan dari kaum muslimin dengan memberi satu sha’ kurma atau satu sha’ gandum”. (HR. Ahmad, Bukhori dan Muslim). Tujuan zakat fitrah agar tidak ada yang kelaparan dan kekurangan pada hari raya Idul Fitri. “Ughnuhum ‘anit thawafi fi hadzal yaum.  Berilah orang fakir miskin itu kecukupan makanan pada hari raya itu (Red: Idul Fitri) sehingga mereka tidak berkeliling mencari makanan”.

Sebagai madrasah tahunan, salah satu hal utama yang juga dituju puasa adalah perilaku kedermawanan.

Artinya, dalam puasa, seorang muslim dilatih untuk menjadi pribadi yang dermawan. 

Setelah ia bekerja keras mencari nafkah, ia dididik untuk berlapang dada memberikan hasil jerih payahnya pada sesama. Tentu, bukan hal yang mudah bagi seseorang untuk memberikan hartanya pada sesama.

Perilaku kedermawan dibentuk oleh worldview bahwa seorang muslim tidak boleh mencintai harta kekayaannya melebihi cintanya pada Allah Swt. S

eperti kata Ibnu Athailah al-Iskandari dalam kitab Hikam, bahwa kecintaan pada sesuatu akan membuat pecinta menjadi budaknya.

Sementara, Allah ingin agar manusia menjadi hamba Allah semata, bukan ‘budak’ sesuatu tersebut. Logikanya, jika orang mencintai harta, maka ia akan menjadi ‘budak’ harta. Ia pasti akan menghabiskan hari-harinya demi memenuhi ambisi hartanya. Sebaliknya, pasti dalam pribadi orang ini, tidak ada ruang untuk Allah Swt. karena semua ruang hidupnya diisi sepenuhnya dengan ambisi keduniaan semata.

Untuk menjadikan muslim yang tidak mencintai berlebihan pada harta kekayannya, Allah memberikan catatan penting dalam al-Qur’an. “Lan tanalull birra hatta tunfiqu mimma tuhibbun. (QS. Ali Imron: 92).

Sekali-kali kalian tidak akan mencapai kebajikan hingga kalian infakkan apa yang kalian cintai”. Sebelum orang terlanjur cinta pada harta dan kekayaan dunia, maka Allah memerintahkan muslim untuk menginfakkan sesuatu yang dicintainya.

Halaman
123
Sumber: Tribun Jatim
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved