Ramadan 2021

Kisah Ramadan Pelajar Indonesia Puasa 16 Jam di Turki-Inggris, Tak Ada Azan hingga Masjid Dihidupkan

Cerita Ramadan dua mahasiswi Indonesia, Fadiah Mukhsen dan Rika Rostika berpuasa 16 jam di Turki dan Inggris. Tidak ada azan hingga masjid dihidupkan.

Dok Fadiah Mukhsen dan Rika Rostika
Kiri-kanan: Fadiah Mukhsen, mahasiswi Indonesia yang menempuh studi S2 di Sakarya University, Turki jurusan Pendidikan Agama. Rika Rostika, mahasiswi Indonesia yang menempuh studi S2 di University of Bristol, Inggris jurusan MSc Education (Leadership and Policy). 

Rasa sedih menyelimuti Rika saat tidak bisa mendengar azan selayaknya di Indonesia.

Agar tahu jam buka puasa atau tidak ketinggalan waktu sahur, ia menggunakan ponsel untuk dapat mendengar suara azan.

“Selama puasa di sini, cara saya adalah men-setting suasana Ramadan agar seperti Ramadan di Indonesia. Sedihnya tidak ada azan di sini, untuk mendengar suara azan harus setting dulu pake handphone,” terangnya.

Baca juga: Berjaya di Panggung Balet, Michael Halim Peraih Solo Seal Punya Mimpi Besarkan Balet Kontemporer

Sebelum Pandemi “Festive” Sekali

Suasana Ramadan di Inggris sebelum pandemi Covid-19 menurut Rika lebih meriah. Hal ini karena banyak diadakan kegiatan buka bersama baik itu di taman, rumah, hingga restoran.

“Di Inggris sendiri untuk Ramadan sangat tergantung pada organisasi muslim Indonesia maupun lokal, misalnya Bristol Indonesian Society, kumpulan pengajian Al-Hijrah, komunitas ibu-ibu, mereka ini yang biasanya mengundang mahasiswa Bristol untuk buka puasa bersama dengan keluarga Indonesia di Bristol. Suasana Ramadan dulu festive sekali, ada bukber di taman, rumah, atau restoran. Sangat disayangkan tahun ini tidak ada. Tapi kita berdoa yang terbaik saja, karena yang terpenting saat ini adalah kesehatannya dulu,” jelas Rika.

Baca juga: Sosok Nikita Fima, Freediver dan Mermaid Jakarta Aquarium Bersuara Merdu yang Cinta Dunia Bawah Laut

Ramadan di Turki saat Pandemi Covid-19

Fadiah Mukhsen, mahasiswi Indonesia yang saat ini menempuh studi S2 di Sakarya University, Turki jurusan Pendidikan Agama.
Fadiah Mukhsen, mahasiswi Indonesia yang saat ini menempuh studi S2 di Sakarya University, Turki jurusan Pendidikan Agama. (Dok Fadiah Mukhsen)

Meskipun banyak rintangan, ternyata berpuasa di negeri orang lain juga kaya akan pengalaman menarik.

Fadiah Mukhsen, mahasiswi Indonesia yang menempuh studi S2 jurusan Pendidikan Agama atau Religious Education di Sakarya University Turki menceritakan pengalamannya berpuasa di Turki sebelum dan saat pandemi Covid-19 berlangsung,

Tidak jauh berbeda dengan di Inggris, Fadiah menjelaskan kebijakan Ramadan di Turki selama pandemi Covid-19 sebagai berikut.

“Kebijakan di Turki kurang lebih mirip dengan di Inggris, restoran cuman boleh takeaway, toko baju enggak pernah tutup, hanya restoran yang ditutup, minimarket tetap buka. Perjalanan luar kota dibatasi,” ujar Fadiah.

Ramadan 2021 di Turki sendiri bagi Fadiah merupakan tahun ketiga perkuliahannya di sana. Ia menjalani puasa selama 15 jam. Selama pandemi tidak ada buka dan sahur bersama.

“Tahun ini adalah tahun ketiga saya, suasana puasanya berbeda dari tahun sebelumnya. Kasus virus Corona di Turki meningkat hingga 300 persen, jadi selama puasa ada kebijakan baru yakni Sabtu-Minggu lockdown, Senin sampai Jumat hanya boleh keluar hingga pukul tujuh malam. Selama pandemi tidak ada buka dan sahur bersama,” imbuhnya.

Baca juga: Berawal dari Motivasi Masuk Bumper Opening, Rizky Maulana Raih Posisi Top 16 MasterChef Indonesia S5

Masjid Dihidupkan, Memasang Mahya

Halaman
123
Sumber: Tribun Jatim
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved