Berita Surabaya

Stasiun di Surabaya Sepi Pemudik, Calon Penumpang Sempat Kaget Aturan Pengetatan Perjalanan

Sejumlah stasiun kereta api di Surabaya sepi pemudik. Namun, tidak sedikit masyarakat yang terlanjur memesan tiket saat khawatir....

Surya/Bobby
Sejumlah penumpang berjalan di depan petugas stasiun Surabaya Gubeng, Jumat (23/4/2021). Stasiun sepi pemudik. 

Reporter: Bobby Koloway I Editor: Ndaru Wijayanto

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Sejumlah stasiun kereta api di Surabaya sepi pemudik. Namun, tidak sedikit masyarakat yang terlanjur memesan tiket saat khawatir akan adanya aturan pengetatan perjalanan oleh pemerintah.

Di antaranya adalah Herlina, penumpang asal Kalimantan yang rencananya akan mudik ke Jember. Ia mudik bersama adik dan ketiga anaknya.

Ia bersama anak-anaknya meninggalkan suaminya yang tengah bekerja di Kalimantan.

"Kami berangkat mudik duluan sejak dua hari lalu. Kami istirahat sebentar di Surabaya sebelum melanjutkan perjalanan ke Jember," kata Herlina ditemui di Stasiun Gubeng, Jumat (23/4/2021) sebelum berangkat ke Jember.

Ia memutuskan untuk mudik terlebih dahulu karena adanya pelarangan mudik dari pemerintah, 6-17 Mei. Ditambah, sejumlah kabar yang menyebut masyarakat boleh mudik sebelum pelarangan tersebut.

Namun, begitu sampai di Surabaya, dia terkejut pemerintah mengeluarkan Addendum Surat Edaran Nomor 13 tahun 2021, Kamis (22/4/2021).

Baca juga: Viral Video Anak Kru KRI Nanggala 402 Larang Ayahnya Pergi, Seakan Punya Firasat, Pintu Dikunci

Surat Edaran itu mengatur pengetatan persyaratan Pelaku Perjalanan Dalam Negeri (PPDN) selama H-14 peniadaan mudik (22 April - 5 Mei 2021) dan H+7 peniadaan mudik (18 Mei - 24 Mei 2021).

Termasuk, mengatur perjalanan di kereta api. Pelaku perjalanan kereta api antarkota wajib menunjukkan surat keterangan hasil negatif tes RT-PCR/rapid test antigen.

Sampelnya diambil dalam kurun waktu maksimal 1 x 24 jam sebelum keberangkatan. Juga bisa dengan surat keterangan hasil negatif tes GeNose C19 di Stasiun Kereta Api sebelum keberangkatan sebagai persyaratan perjalanan.

"Kaget ya, agak berat juga. Tapi kami patuh. Kami sudah cek kesehatan, juga hasilnya negatif," katanya.

Beda halnya dengan Arif Hidayat, warga Pamekasan yang akan berkunjung ke saudaranya di Banyuwangi. Ia tak masalah dengan pengetatan tersebut.

Ia mendukung kebijakan pemerintah untuk melakukan pengetatan perjalanan. "Masyarakat memang pada akhirnya pikir-pikir untuk pulang kampung," katanya.

"Saya sebenarnya juga sudah berbuat untuk tidak mudik untuk lebaran nanti. Saya ke Banyuwangi cuma untuk menjenguk saudara, rencananya pulang hari Minggu," kata pria asli Klaten ini.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jatim
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved