Breaking News:

Ramdan 2021

Ketua MUI Jawa Timur KH Abdurrahman Navis: Zakat, Antara Keimanan dan Kedermawanan

Bagaimana cara Anda menyebut orang lain sebagai orang yang dermawan? Simak penjelasan Ketua MUI Jawa Timur KH Abdurrahman Navis.

Editor: Taufiqur Rohman
ISTIMEWA
KH Abdurrahman Navis (Ketua MUI Jawa Timur dan Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Huda Surabaya) 

Kalimat “berdoalah untuk mereka” dalam ayat tersebut adalah perintah Allah kepada Nabi Muhammad SAW agar mendoakan umatnya yang membayar zakat.

Jadi bayangkan, betapa hebatnya orang yang membayar zakat sampai-sampai Allah memerintahkan Nabi Muhammad SAW untuk mendoakan.

Prinsip ini kita pegangi dan ini adalah statemen Al-Qur’an yang pasti benar.

Tinggal kita sanggup atau tidak menerima tawaran ini, bahwa kita benar-benar bersih hatinya, berkah hartanya dan selamat hidupnya, karena membayar zakat disertai dengan keikhlasan dan ketulusan mengharap ridha Allah SWT.

Zakat sendiri ada dua jenis; zakat fitri dan zakat mal (harta).

Keduanya wajib dilaksanakan bagi setiap muslim yang sudah memenuhi syarat.

Zakat fitri (disebut juga zaat fitrah) adalah kewajiban mengeluarkan harta dalam bentuk makanan pokok (beras) sebesar 1 sha’ (setara dengan ± 2,7 kg) yang dilakukan pada bulan Ramadhan sampai sebelum dilaksanakannya Shalat Idul Fitri.

Zakat fitrah ini wajib bagi setiap orang Islam, untuk dirinya sendiri dan untuk orang-orang yang berada dalam tanggungannya (dewasa/anak).

Sedangkan zakat mal berkaitan dengan emas, perak, hasil perdagangan, pertanian, pertambangan dan penghasian/profesi.

Masing-masing memiliki ketentuan dan cara penghitungannya sendiri-sendiri.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved