Breaking News:

Ramadan 2021

Menjelajah Menjemput Malam Lailatul Qodar di Bulan Ramadan

Puasa hanya diperuntukkan bagi orang-orang beriman dan atas itulah Tuhan menyediakan bonus yang supermewah berupa malam lailatul qodar

Editor: Dwi Prastika
ISTIMEWA/TRIBUNJATIM.COM
Prof Dr Suparto Wijoyo, Ketua Lembaga Pemuliaan Lingkungan Hidup dan SDA MUI Jawa Timur dan Wakil Direktur III Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga Surabaya 

Beliau menempuh jelajah hening, ruang sunyi, sisi tepi, dan pusat energi yang imun dari gemerlap duniawi. Setarikan napas dapat engkau imajinasikan dengan “berdiam diri di rumah kala pandemi ini”. Menyendirikan jiwa-raganya untuk menemukan kesejatian, me-nyuwung-kan jasad memendarkan ruhani menyapa Illahi dengan gerakan uzla, topo, memes rogo lan roso, bertahannuts, berkhalwat, bermeditasi mendialogkan diri kepada Yang Maha Tinggi. Langkah ini ditempuh mengingat di luaran Gua Hira terjadi tragedi kehidupan yang mengerikan. Manusia kehilangan martabatnya dengan bertindak mungkar, zalim dan nista. Pembunuhan anak-anak perempuan yang baru lahir dan merendahkan derajat perempuan serta menjadikan materi (batu maupun adonan kue) sebagai sesembahan, berhala, adalah ekspresi jiwa yang sangat jahil, bodoh sebodoh-bodohnya.

Nabi Muhammad SAW terpanggil untuk mengatasi kejahiliaan jiwa ini mengingat secara fisik bangsa Quraisy amatlah maju infrastrukturnya, Makkah adalah “metropolitan”. Kota transkafila yang menguntungkan secara ekonomi. Makkah memiliki sumber daya teologis sempurna dari Nabi Ibrahim AS dan Ismail AS dengan Kabah dan Sumur Zam-zam. Hanya saja akibat watak jahiliyah (orang cerdas tanpa hidayah) inilah yang mempertindakkan manusia menjadikan Baitullah diberi ornamen patung-patung, arca-arca yang disembah sebagai Tuhan. Selingkup kahanan yang memerihkan hati Baginda Muhammad SAW hingga Allah SWT menjawab dengan penyampaian wahyu di 17 Ramadan, yang dalam hitungan Hijriyah, saat itu “deklarasi utusan Tuhan”: Rasulullah Muhammad SAW dalam usai 40 tahun, 6 bulan 12 hari “dilantik” dengan skema pewahyuan Alquran Surat Al-Alaq ayat 1-5 yang amat populer.

Ornamen Ramadan

Pada lingkup itulah Allah SWT tidak membiarkan Ramadan tanpa ornamen yang mengesankan dalam menarik hati hamba-hamnya yang beriman.

Puasa sendiri adalah periodesasi spesial yang hanya diperuntukkan bagi orang-orang beriman dan atas itulah Tuhan menyediakan bonus yang supermewah berupa malam lailatul qodar. Tadarus Alquran semoga sudah sampai pada Surat Al-Qodr, ayat 1-5 yang sudah biasa dingajikan: “innaaa anzalnaahu fil lailatil-qodr, wa maa adrooka maa lailatul-qodr, lailatul-qodri khorum min alfi syahr, tanazzalul-malaa’ikatu war-ruuhu fiihaa bi’izni robbihim, ming kulli amr, salaamun hiya hatta mathla’il-fajr (sesungguhnya Kami telah menurunkan alquran pada malam qadar, dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan, pada malam itu turun para malaikat dan Roh Jibril dengan izin Tuhannya, sejahteralah malam itu sampai terbit fajar)”.

Orang-orang beriman berkesempatan meraih kemuliaan yang lebih utama dari seribu bulan (83-84 tahun). Apabila angka itu dikalkulasikan dengan jumlah usia masing-masing orang, maka terdapat beratus-ratus tahun umur hamba-Nya yang “merayakan malam lailatul qodar”. Inilah tonggak optimisme untuk mendapatkan “kemuliaan hidup” pada setiap Ramadan. Kini saya menyaksi betapa orang-orang beriman tengah memenuhi “halaman tauhidnya” sambil bersimpuh di malam keagungan. Malam-malam yang disyukuri dengan penjemputan kolektif sambil menarasikan segala pengharapan.

Oleh Prof Dr Suparto Wijoyo, Ketua Lembaga Pemuliaan Lingkungan Hidup dan SDA MUI Jawa Timur & Wakil Direktur III Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga Surabaya

Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved