Breaking News:

Kampus Surabaya

Inilah Kunci Kampus Bisa Terhindar dari Radikalisme

“Edukasi Bebas Radikalisme-Terorisme” bersama TV swasta Surabaya. Para Akademisi Unesa bersama korban Bom GKI Jl Diponegoro Surabaya mengupas potensi

Nuraini Faiq/surya
Unesa bongkar kampus jadi tempat radikalisme 

Reporter : Nuraini Faiq | Editor : Yoni Iskandar

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Kampus berpotensi menjadi tempat yang tawan terpapar paham radikalisme. Pusat Pembinaan Ideologi (PPI) Unesa Surabaya pun gencar mengedukasi masyarakat terkait pencegahan paham radikal dan intoleran.

Lembaga ini menggelar Forum Dialog dengan tajuk “Edukasi Bebas Radikalisme-Terorisme” bersama TV swasta Surabaya. Para Akademisi Unesa bersama korban Bom GKI Jl Diponegoro Surabaya mengupas potensi radikalisme di kampus.

Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan Unesa Bambang Sigit Widodo menyebut bahwa kampus harus menjadi contoh lembaga pembentuk karakter generasi bersih dan bersatu.

"Kampus harus menyesuaikan ldengan program kekinian. Mahasiswa harus sadar tanpa dipaksa untuk bersama menanggulangi paparan radikalisme. Kesadaran ini harus dilahirkan," kata Bambang, Jumat (30/4/2021).

Alumnus Fakultas Ilmu Sosial Hukum yang juga anggota Tim Kelompok Kerja Karakter dan Ideologi Bangsa Forum Rektor Indonesia ini menegaskan bahwa kampus harus memberikan pemahaman.

Kepala PPI Unesa Imam Marsudi menyebut perlunya upaya preventif di kampus. Unesa misalnya berkolaborasi dengan Polda Jatim dan lembaga lain.

Baca juga: Tangkal Radikalisme, Mahfud Ketua IKA PMII Surabaya Siap Galakkan Silaturahmi Nasionalis-Religius

"Kami masuk pada orientasi mahasiswa baru. Ingat teman sebaya adalah pencegah efektif juga," kata Imam.

Perlu dibangun kelompok bersama untuk saling memperdulikan sesama teman. Mulai kehadiran di perkuliahan hingga postingan di media sosial. Ini bisa meminimalisasi paparan terhadap radikalisme.

Dalam forum diskuksi itu juga hadir korban bom GKI Jl Diponegoro Surabaya, Yesaya Bayang. Korban Teror Mei 2008 itu menjadi saksi anak dilibatkan dalam aksi bom bunuh diri.

"Bagaimana mungkin anak masih kecil ikut bunuh diri. Anak harus diselamatkan pertama kali dari paham radikalisme. Jangan sampai jadi korban cuci otak. Masyarakat harus bisa menjaga toleransi dan kebersamaan antarumat bergama," kata Yesaya kepada TribunJatim.com.

Berita tentang radikalisme

Penulis: Nuraini Faiq
Editor: Yoni Iskandar
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved