Breaking News:

‘Khusyuk’ Ramadhan di Tengah Pandemi

Ramadhan 1442 H ini merupakan tahun kedua, umat Islam seluruh dunia beribadah puasa di tengah pandemi. Semarak bulan suci dengan berbagai aktivitas

istimewa
Listiyono Santoso, Sekretaris Komisi Pengkajian, Penelitian dan Pelatihan MUI Jawa Timur, dan Wakil Dekan 1 Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga 

Penulis : Adrianus Adhi | Editor : Yoni Iskandar

Oleh Listiyono Santoso : Sekretaris Komisi Pengkajian, Penelitian dan Pelatihan MUI Jawa Timur,  Wakil Dekan 1 Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Beragama yang semarak. Begitulah banyak orang memberikan gambaran bagi cara beragama (Islam) di Nusantara. Berbagai ritual tradisi diselenggarakan dalam rangka memeriahkan kegiatan beragama.

Dari soal maulidan, tasyakuran haji, hingga kegiatan keagamaan lainnya dengan melibatkan banyak jamaah. Keislaman yang ‘meriah’ begitu lekat dalam tradisi beragama kita.

Ramadhan 1442 H ini merupakan tahun kedua, umat Islam seluruh dunia beribadah puasa di tengah pandemi Covid-19. Semarak bulan suci dengan berbagai aktivitas ritual ibadah tidak lagi semeriah sebelumnya.

Kegiatan menghidupkan malam di bulan puasa, seperti tarawih, takdarus bersama, iktikaf dan lainnya boleh dilakukan dengan berbagai protokol kesehatan yang ketat.

Kemeriahan buka puasa bersama di berbagai kantor, rumah makan dan resto meski mulai diselenggarakan, tetap saja harus dilakukan dalam ‘jarak’ agar potensi penularan virus corona dapat dicegah.

Ramadhan dalam senyap. Tidak ada kemeriahan yang mengiringinya. Kaum muslim sulit berbagi takjil di pinggir jalan untuk menghindari kerumuman. Cerita ngabuburit menjelang buka puasa juga dibatasi. Situasi-situasi demikian begitu berkecamuk dalam bayangan kaum muslimin yang sudah terbiasa ‘menghidupkan’ bulan puasa dengan berbagai ritual secara bersama. Semua berganti dengan ‘sunyi’.
Covid-19 telah mencipta kemeriahaan menjadi suatu kesenyapan.

Pandemi memberi batas bagi kaum muslim dalam melaksanakan peribadatan di bulan Ramadhan. Corona virus mengharuskan kita ‘banyak’ beribadah di rumah saja. Bukan untuk menghilangkan kemeriahan, melainkan agar kemudharatan tidak terjadi. Apakah kita akan kehilangan momentum, tatkala Ramadhan tak semeriah sebelumnya? Tentu saja tidak. Yang hilang hanyalah kemeriahan yang bersifat duniawi.

Ibarat substansi dan aksidensi, kesemarakan itu aksidensi, bukan substansi diwajibkannya ibadah shaum di bulan Ramadhan. Kesemarakan bukan tidak penting, tapi ia tidak boleh mengalahkan makna hakiki tujuan berpuasa. Jika kesemarakkan
dikalahkan oleh wabah Covid-19 misalnya, substansi berpuasa tetap dapat kita temukan.

Baca juga: Hikmah Ramadhan, Gubernur Khofifah Ajak Sambut Kemenangan Bebas dari Covid-19: Tak Mudik Itu Terbaik

Halaman
123
Penulis: Adrianus Adhi
Editor: Yoni Iskandar
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved