Breaking News:

Berita Jatim

Inflasi Jawa Timur 4x Beruntun Menurun, Pakar Ekonomi Unair: Ini Menunjukan Adanya 2 Permasalahan

Jawa Timur (Jatim) mengalami penuruna angka persentase inflasi 4 kali beruntun. Begini kata pakar ekonomi dari Unair Imron Mawardi.

TRIBUNJATIM.COM/FIKRI FIRMANSYAH
Bu Eko (65) pedagang penjual daging sapi nampak tak lelah untuk terus bersuara menawarkan dagangan daging sapinya kepada pengunjung Pasar Pucang Anom yang lewat didepannya. Senin (5/4/2021). 

Kata dia, kelompok pengeluaran yang mengalami inflasi tertinggi adalah yaitu kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,55 persen, diikuti kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 0,30 persen, kelompok kesehatan sebesar 0,22 persen, kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,17 persen.

Kemudian, lanjutnya, kelompok rekreasi, olahraga dan budaya sebesar 0,16 persen serta kelompok transportasi sebesar 0,12 persen, kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 0,06 persen dan kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,04 persen.

Baca juga: Dampak Pemulihan Ekonomi Global Baru Akan Terasa di Indonesia pada Kuartal III 2021

Sementara itu, Pakar Ekonomi dari Unair Imron Mawardi mengungkapkan, terus menurunnya angka inflasi di Jatim ini menunjukan adanya dua permasalahan.

Pertama, artinya perekonomian Jawa Timur belum membaik.

"Rumusnya adalah pertumbuhan ekonomi yang tinggi tentunya akan mengakibatkan inflasi yang juga tinggi. Begitu pun sebaliknya, jika pertumbuhan ekonomi yang rendah maka akan menciptakan inflasi yang rendah pula. Jadi memang ekonomi kita masih belum membaik," jelas Imron kepada TribunJatim.com saat dihubungi via WA, Selasa (4/5/21).

Untuk indikasi permasalahan yang kedua, dikatakannya, terkait daya beli masyarakat sangat rendah dan hal juga ini masih berhubungan dengan permasalahan yang pertama soal ekonomi belum pulih.

"Daya beli masyarakat bulan-bulan lalu memang masih rendah karena keuangan mereka juga tidak berlebih," tambahnya.

Ditanyai soal apakah ada ancaman deflasi di Jatim, jika terus menurun angka persentase inflasinya, Imron mengatakan ada, tapi potensinya sangat kecil.

"Pasalnya, di bulan Mei ini kan ramadan, orang uda dapat THR semua, selain itu kalo tidak salah juga akan ada BLT UMKM/UKM gelombang dua. Jadi ini hal baik. Bisa membuat kondisi keuangan masyarakat berlebih. Jika keuangan mereka (masyarakat) berlebih otomatis akan membuat daya beli kembali membaik," terangnya.

Berita tentang Jawa Timur

Berita tentang BPS Jatim

Penulis: Fikri Firmansyah
Editor: Hefty Suud
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved