Breaking News:

Berita Banyuwangi

Pasangan Muda di Banyuwangi Produksi Pupuk Organik dari Limbah Kayu Jati, Ipuk: Sangat Keren Sekali

Pasangan muda di Banyuwangi memproduksi pupuk organik dari limbah kayu jati, Bupati Ipuk: Sangat keren sekali, bisa menjadi contoh yang lain.

Penulis: Haorrahman | Editor: Dwi Prastika
ISTIMEWA/TRIBUNJATIM.COM
Pasangan asal Desa Siliragung, Kecamatan Siliragung, Banyuwangi, Iskandar dan Liismawati, mendirikan laboratorium pertanian di lahan belakang rumahnya, 2021. 

Reporter: Haorrahman | Editor: Dwi Prastika

TRIBUNJATIM.COM, BANYUWANGI - Satu lagi inovasi pertanian dihasilkan dari tangan anak muda Banyuwangi.

Mereka adalah Iskandar dan istrinya, Liismawati, yang membuat teknologi pupuk organik dari limbah kayu jati sebagai vitamin tanah dan tanaman.

Pasangan asal Desa Siliragung, Kecamatan Siliragung, Banyuwangi tersebut, mendirikan laboratorium pertanian di lahan belakang rumahnya. 

Di ladang berukuran 20x20 meter tersebut mereka melakukan berbagai eksperimen untuk memperbaiki unsur hara tanah dan kualitas tanaman seperti jeruk, buah naga, semangka, dan lainnya. 

"Ladang ini bisa disebut sebagai laboratorium uji coba kami. Kami meneliti kualitas tanah dan tanaman dengan memanfaatkan limbah dari pohon jati," kata Iskandar kepada Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani yang berkunjung ke lahannya, dalam rangkaian Bupati Ngantor di Desa (Bunga Desa). 

Mereka membuat pupuk organik cair yang dinamakan Hazzel, berbahan dasar cuka kayu (wood vinegar) dari limbah kayu jati. Mereka juga membuat sendiri alat pengolahan berupa tabung dan pipa berukuran besar menggunakan teknologi pirolisa dan destilasi dengan kandungan senyawa organik fenol dan asam etanoat untuk menghasilkan cuka kayu yang dijadikan pupuk.

Menurut Iskandar, sebenarnya dengan alat ini bisa mengolah berbagai jenis kayu juga plastik, namun limbah kayu jati memiliki kualitas cuka kayu yang lebih bagus. 

"Terutama kualitas kayu jati dari Banyuwangi, paling bagus dibandingkan daerah lainnya," kata Alumni Fakultas Pertanian Universitas Sam Ratulangi Manado itu. 

Iskandar mengatakan, tiap tiga bulan dia membutuhkan 4 ton limbah kayu jati yang menghasilkan 6000 liter pupuk. 

Baca juga: Luncurkan Program SMS Pisan Jadi Cara Baru Banyuwangi Kerek Produktivitas Sapi

Halaman
12
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved