Breaking News:

Berita Banyuwangi

Telah Bantu 20.000 Pelajar, Kini Banyuwangi Luncurkan Sekolah Asuh Sekolah

Gerakan solidaritas antar siswa di Banyuwangi, Siswa Asuh Sebaya (SAS), semakin dirasakan manfaatnya. Gerakan tersebut kini semakin meluas

Penulis: Haorrahman
Editor: Januar Adi Sagita
TribunJatim.com/ Haorrahman
Peluncuran program Sekolah Asuh Sekolah di Banyuwangi 

Reporter: Haorrahman | Editor: Januar AS

TRIBUNJATIM.COM, BANYUWANGI - Gerakan solidaritas antar siswa di Banyuwangi, Siswa Asuh Sebaya (SAS), semakin dirasakan manfaatnya. Gerakan tersebut kini semakin meluas jangkauannya. Tidak hanya membantu antar siswa di dalam sekolah, namun meluas antar sekolah.

Jika dulu dikenal dengan Siswa Asuh Sebaya, kini gerakan membangun kepedulian antar pelajar di Banyuwangi itu kini diperluas menjadi Sekolah Asuh Sekolah (SAS). Gerakan tersebut diluncurkan oleh Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani dari SDN 1 Lateng, Kecamatan Banyuwangi, Sabtu (8/5/2021).

Ipuk menjelaskan, program Sekolah Asuh Sekolah adalah peningkatan dari program Siswa Asuh Sebaya. Lewat program Sekolah Asuh Sekolah, Ipuk berharap dapat meningkatkan solidaritas antar sekolah. Sekolah-sekolah yang memiliki kelebihan, baik dari sisi anggaran, fasilitas, maupun kapasitas, diharapkan bisa mengasuh sekolah lain yang memang membutuhkan pendampingan.

“Lewat program ini, saya harapkan setiap sekolah bisa saling bersinergi. Misalnya, jika ada sekolah memiliki kelebihan komputer, bisa diberikan ke sekolah lain yang masih kekurangan komputer,” kata Ipuk.

Baca juga: Deretan Harta Penjual Tas Kaya Raya yang Sebar Uang Rp 100 Juta Untuk Karyawan

“Demikian pula dari sisi kompetensi dan sistem, sekolah yang lebih maju harus mendampingi sekolah lain untuk melakukan transformasi. Ini adalah salah satu strategi menjawab masalah pemerataan kualitas pendidikan,” imbuh Ipuk.

Siswa Asuh Sebaya (SAS) sendiri merupakan program mengumpulkan dana sukarela dari siswa mampu, lalu diberikan untuk rekannya dari keluarga kurang mampu. Setiap pekan pelajar dari keluarga mampu rutin menyisihkan uang sakunya lalu dikumpulkan untuk diberikan kepada siswa yang kurang mampu di sekolahnya. 

Data dari DInas Pendidikan menyebutkan total yang berhasil dikumpulkan siswa dari menyisihkan uang jajannya sejak 2011 mencapai Rp 21,297 miiar. Dan berhasil membantu 20.000 siswa kurang mampu.

Bantuan ada yang berupa beasiswa, alat dan modul pembelajaran, tas, sepeda, sepatu, maupun uang saku untuk transportasi. Ada juga handphone dan pulsa internet untuk belajar daring.

“SAS ini kemudian kita kembangkan menjadi Sekolah Asuh Sekolah. Kalau dulu sasarannya hanya teman sebaya di sekolah yang sama, sekarang juga menyasar siswa di sekolah yang lain. Bahkan guru pun bisa mengajak diskusi guru lain di sekitarnya untuk menerapkan pembelajaran yang lebih efektif. Sehingga SAS tidak hanya mendorong empati para pelajar, namun juga guru dan kepala sekolah,” papar Ipuk.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved