Breaking News:

Berita Banyuwangi

Ngopi Jaran Goyang di Desa Kemiren Kental Tradisi Suku Osing Banyuwangi, Sekali Seduh Jadi Saudara

Sensasi ngopi Jaran Goyang di Desa Wisata Kemiren kental akan tradisi Suku Osing Banyuwangi, sak corotan dadi seduluran atau sekali seduh jadi saudara

Penulis: Nur Ika Anisa | Editor: Dwi Prastika
Instagram @kopai_osing
Masyarakat Osing Kemiren Banyuwangi menyangrai kopi secara tradisional, 2021. 

Reporter: Nur Ika Anisa | Editor: Dwi Prastika

TRIBUNJATIM.COM, BANYUWANGI - Desa Wisata Kemiren, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, tak hanya kondang lantaran budaya dan keseniannya. Tapi juga terkenal akan kopi khas daerah setempat, yang masyarakat sekitar menamainya dengan sebutan kopi osing.

Kepiawaian masyarakat Suku Osing (suku asli Banyuwangi) dalam menyangrai dan menyeduh kopi tradisional tak diragukan lagi.

Gelaran festival kopi yang menjadi event tahunan, turut melambungkan nama kopi khas masyarakat Osing hingga ke tingkat internasional.

Di balik kenikmatan segelas kopi yang disajikan, ada makna filosofis yang juga turut digaungkan masyarakat Kemiren.

Filosofi tersebut tidak hanya menjadi sebatas slogan saja, tapi juga menjadi modal promosi yang itu bisa menggerakkan ekonomi masyarakat.

Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kencana Kemiren, Mohammad Edy Saputro, mengatakan, tradisi ngopi di Kemiren mengusung filosofi sak corotan dadi seduluran. Artinya, dari segelas kopi yang diseduh, bisa memperluas ikatan persaudaraan.

Dengan menikmati seduhan kopi bersama, para tamu maupun masyarakat setempat akan saling mengenal dan bersilaturahmi.

“Jargon dari tester kopi dunia Pak Iwan Subekti itulah yang menimbulkan semangat teman-teman perkopian di Banyuwangi, khususnya di Desa Kemiren,” kata Edy kepada Tribun Jatim, Selasa (25/5/2021).

Tidak sedikit produk merek kopi yang bisa ditemukan di Desa Wisata Kemiren, di antaranya Kopai Osing milik Iwan Subekti di Sanggar Genjah Arum Kemiren dan Kopi Jaran Goyang.

Edy menjelaskan, penamaan Kopi Jaran Goyang merujuk pada mantra pengasih khas Banyuwangi. Cita rasa kopi yang memikat membuat siapapun yang pernah mencicipi jadi jatuh cinta.

“Kami kelola biji kopi itu dengan konsep mantra pengasih Banyuwangi sebagai promosi,” ujarnya.

Seduhan kopi yang disajikan masyarakat Osing pun cukup khas. Kopi yang disajikan tidak menggunakan gelas, melainkan cangkir khusus dengan corak seragam. Bukan cangkir biasa tentunya. Melainkan cangkir yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.

Baca juga: Puri de Fanny Dijual untuk Palestina, Bangunan Bergaya Rumah Osing di Banyuwangi, Segini Harganya

“Cangkir-cangkir itu warisan keluarga yang memang masih dipertahankan semua masyarakat Kemiren,” kata Edy.

Budaya ngopi yang ada di Desa Wisata Kemiren pun diakuinya telah ada sejak zaman lampau. Dalam tradisi masyarakat Osing, setiap ada tamu yang datang paling utama menyuguhkan secangkir kopi. Cangkir-cangkir kopi warisan leluhur Osing di Kemiren dari dulu hingga sekarang masih terawat.

“Tradisi ini yang juga menjadi brand wisata dari sebuah budaya yang melekat di Kemiren,” ucapnya.

Desa Wisata Kemiren, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, 2021.
Desa Wisata Kemiren, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, 2021. (Instagram @desa_kemiren)

Bagi masyarakat Osing Kemiren, segelas kopi menjadi sajian wajib untuk mengawali hari yang akan dijalani. Makanya tak heran setiap pagi akan tercium aroma kopi yang kuat, saat berkunjung ke rumah masyarakat di sana.

Suguhan segelas kopi yang disajikan masyarakat Osing Kemiren, biasanya disanding dengan kuliner tradisional. Seperti kue klemben maupun kue kucur gula aren.

Keuntungan lain yang bisa didapat wisatawan yang berkunjung ke Desa Wisata Kemiren adalah berkesempatan terlibat mengolah kopi secara tradisional. Utamanya belajar menyangrai kopi. Wisatawan juga biasanya diajak belajar menari gandrung, menyaksikan tradisi gedhogan memukul lesung, kesenian barong, mocopotan (membaca lontar kuno) hingga menyantap makanan khas seperti Pecel Pitik dan Ayam Uyah Asem.

Baik kopi maupun kuliner khas yang disajikan, bisa dinikmati sambil merasakan sensasi tinggal di Rumah Adat Osing. Di Desa Wisata Kemiren, hampir semua rumah masih berbentuk rumah adat Osing.

Ada 47 homestay yang dikelola masyarakat. Beberapa kamar di antaranya disewakan untuk wisatawan. Pemandangan yang ada pun bakal membuat wisatawan semakin betah. Wisatawan bisa menikmati pemandangan Gunung Ijen maupun Gunung Raung yang terlihat jelas dari sana.

Jarak Desa Wisata Kemiren dari Kota Banyuwangi sekitar 10 kilometer. Akses jalan cukup mudah, bisa ditempuh menggunakan sepeda motor maupun kendaraan roda empat.

Banyak pihak yang terlibat dalam promosi maupun pengembangan wisata Desa Adat Kemiren. Di antaranya Bank Indonesia (BI) dan Generasi Baru Indonesia (GenBI) Jember.

Edy menuturkan, keterlibatan Bank Indonesia dimulai pada 2019. Saat itu, GenBI Jember dan Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jember, Hestu Wibowo, melakukan kunjungan ke sana. Tertarik dengan keunggulan yang dimiliki, BI Jember pun turun tangan untuk terlibat dalam pengembangan Desa Wisata Kemiren.

Kopi Kemiren Jaran Goyang Banyuwangi menjadi UMKM binaan Bank Indonesia.
Kopi Kemiren Jaran Goyang Banyuwangi menjadi UMKM binaan Bank Indonesia. (Instagram @desa_kemiren)

Bantuan yang dijanjikan BI tampaknya bukan sekadar angin surga. Setelah kunjungan yang dilakukan, BI Jember langsung melakukan penganggaran untuk sarana-prasarana berupa bantuan sound system pertunjukan, perbaikan toilet dan pembangunan rumah adat Osing di Dusun Kedaleman Desa Kemiren.

“Kami mengajukan UMKM kami yaitu Kopi Kemiren Jaran Goyang menjadi UMKM binaan Bank Indonesia. Akhirnya kami menjadi UMKM inspiratif Bank Indonesia se-Jatim di 2019, mewakili Bank Indonesia Jember. Saat ini menempuh SNI untuk kopi,” ujar Edy.

Terkait Pengembangan Kopi Jaran Goyang, Edy menambahkan, Bank Indonesia Jember juga memberi dukungan berupa perbaikan tempat produksi kopi khas Kemiren yang dikelola masyarakat setempat.

“Kami masih proses. Cukup banyak yang dilakukan Bank Indonesia dan GenBI Jember terutama untuk pengembangan kepariwisataan dan UMKM di Desa Wisata Kemiren,” ujar Edy.

Edy melanjutkan, Desa Wisata Kemiren Banyuwangi telah kembali menyambut wisatawan di era new normal. Ia juga memastikan, di masa pandemi Covid-19 (virus Corona) seperti ini, seluruh pengunjung wajib menjalankan protokol kesehatan.

Adapun protokol kesehatan yang dimaksud adalah dengan menggunakan masker, mencuci tangan dengan sabun, menjaga jarak serta tidak berlibur ketika suhu badan lebih dari 37,5 derajat celsius.

“Selama pandemi, beberapa kegiatan masih berjalan dan ada kunjungan wisatawan. Namun untuk Pokdarwis kami mengonsep small group, paket terpecah di beberapa tempat dan private untuk menjaga keamanan wisatawan dan masyarakat,” ujar Edy.

Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved