Breaking News:

Berita Gresik

Cerita Nelayan Asal Gresik yang Rawat Mangrove: Hanya Ingin Nelayan Tidak Susah Cari Kepiting

Abdul Mughni adalah seorang nelayan, mencari ikan di laut. Namun, jiwanya terpanggil saat melihat banyak mangrove yang hilang akibat abrasi hebat pada

Penulis: Willy Abraham
Editor: Januar Adi Sagita
TribunJatim.com/ Willy Abraham
Abdul Mughni, pelestari mangrove di Gresik 

Reporter: Willy Abraham | Editor: Januar AS

TRIBUNJATIM.COM, GRESIK - Abdul Mughni adalah seorang nelayan, mencari ikan di laut. Namun, jiwanya terpanggil saat melihat banyak mangrove yang hilang akibat abrasi hebat pada belasan tahun lalu. 

Tepatnya tahun 2007, wilayah Desa Banyuurip, Kecamatan Ujungpangkah, terdampak abrasi hebat. Tambak dan pohon mangrove yang berada di bantaran sungai Bengawan Solo hilang. Pria 56 tahun inipun terketuk pintu hatinya untuk menanam mangrove

Pasalnya, keberadaan tanaman mangrove ini menjadi alternatif para nelayan untuk menyambung hidup. Para nelayan jika ombak tinggi, maka akan berhenti melaut, tetapi masih bisa mencari kepiting di mangrove. Sehingga dapur tetap mengepul. 

"Dulu itu, kalau nanam tidak banyak. Suka nanam sendiri, pernah juga dirusak, kalau ada penanaman dari program pemerintah banyak yang tidak mau. Padahal ada biaya, kalau sudah dilakukan resek," ucapnya, Selasa (1/6/2021).

Padahal kalau sudah ditanam akan baik-baik saja. Pria tamatan Madrasah Amaliyah atau setara SMA ini pun belajar tentang menanam mangrove secara otodidak. 

"Sambil membuat pembibitan uji coba sendiri sampai 3 bulan saya mau karena baru berhasil," kata dia. 

Baca juga: Sensasi Menangkap Ikan Bandeng dan Susur Sungai Muara Bengawan Solo di Wisata Hutan Mangrove Gresik

Dia mulai melakukan pembibitan mangrove, kelompok tidak semata-mata siap, ditawari harus ada pemilihan dibentuklah kelompok mangrove lingkungan pada bulan Desember tahun 2013. 

"Dari situ ya memang kami programkan di kelompok itu adalau mempunyai visi misi, melestarikan mangrove berkelanjutan, membuat lingkunga bersih dan asri. Kita buat pembibitan, kita tanam di lingkungan cemara kita target 3 tahun. Paling tidak sudah berubah suasananya. Hanya 2 tahun sudah dibangun wisata," terangnya. 

Pasalnya, kondisi berubah drastis, ada tempat sampah sudah tidak gersang. Layaknya disulap, hingga akhirnya ada ide untuk membamgun wisata. 

Halaman
12
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved