Breaking News:

Berita Terkini

Polemik Tes Wawasan Kebangsaan KPK, BNPT RI Beri Tanggapan: Hal Biasa Tapi Sengaja 'Digoreng'

Tes Wawasan Kebangsaan (TWK) yang dilakukan pegawai Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sebagai asesmen alih status pegawai menjadi aparatur sipil

Istimewa/ Dokumen pribadi
Brigjen Pol R Ahmad Nurwakhid 

Reporter: Luhur Pambudi | Editor: Januar AS

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA-Tes Wawasan Kebangsaan (TWK) yang dilakukan pegawai Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sebagai asesmen alih status pegawai menjadi aparatur sipil negara (ASN), belakangan menjadi polemik ditengah masyarakat.

Sejumlah tokoh hingga akademisi turut memberikan tanggapan mengenai polemik tersebut. Ada yang pro dan kontra.

Belakangan diketahui, polemik itu dipicu oleh adanya temuan sejumlah pertanyaan di dalam kuesioner Tes TWK yang diduga tidak merepresentasikan wawasan kebangsaan seorang subjek atau peserta tes, dalam hal ini adalah pegawai lembaga Antirasuah tersebut.

Menanggapi hal tersebut Direktur Bidang Pencegahan, Perlindungan, dan Deradikalisasi, Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT-RI) Brigjen Pol R Ahmad Nurwakhid, menganggap, sejumlah pertanyaan dalam tes tersebut bertujuan mengeksplorasi wawasan kebangsaan peserta tes.

Kuesioner tersebut telah dikoordinasikan oleh tim asesor bersama sejumlah lembaga negara. Mulai dari Badan Kepegawaian Negara (BKN), BNPT, Badan Intelijen Negara (BIN), pusat Intel Angkatan Darat, dan Badan Intelijen Strategis (BAIS).

"Sebenarnya ini menjadi ranah, atau independensi, sikap profesionalitas daripada tim asesor itu sendiri," katanya saat dihubungi TribunJatim.com, Minggu (6/6/2021).

Sejatinya tim asesor, ungkap Nurwakhid, memiliki otoritas dan berkreasi dalam memberikan pertanyaan untuk mengorek atau mendapatkan informasi secara benar dan obyektif, terhadap obyek yang diwawancarai. 

Contohnya, pertanyaan tentang; milih mana antara Pancasila dan Al-Qur'an. Maka tujuan tim asesor untuk mengetahui sejauh mana kematangan daripada obyek di dalam memahami agama.

Menurut Nurwakhid, Jikalau mereka berpotensi untuk radikal, maka mereka akan memilih Alquran. Sedangkan, jika mereka memiliki nasionalisme maka kecenderungan dia akan memilih Pancasila.

Baca juga: Alasan Utama Soeharto Makamkan Soekarno di Blitar, Megawati Sebut Keluarga Tak Setuju

Halaman
1234
Penulis: Luhur Pambudi
Editor: Januar Adi Sagita
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved