Breaking News:

Berita Surabaya

Angka Perceraian Di Surabaya Masih Tinggi, Ini Yang Perlu Diperhatikan

Angka perceraian di Surabaya terbilang masih tinggi. Mencapai 68 persen. Mayoritas istri menggugat cerai suami daripada suami yang menggugat talak

Penulis: Samsul Arifin | Editor: Yoni Iskandar
Surya/samsul Arifin
Humas PA Surabaya, Wachid Ridwan saat ditemui di PA Surabaya, Selasa, (15/6/2021) 

Reporter : Syamsul Arifin | Editor : Yoni Iskandar

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Angka perceraian di Surabaya terbilang masih tinggi. Mencapai 68 persen.

Mayoritas istri menggugat cerai suami daripada suami yang menggugat talak istri.

Hal ini terlihat dari data Pengadilan Agama (PA) Surabaya dari Januari hingga Mei 2021.

Tercatat ada 1.723 istri yang menggugat cerai suami. Sedangkan kasus talak istri mencapai 731 kasus.

Disebutkan Humas PA Surabaya, Wachid Ridwan, faktor banyaknya gugatan cerai ini karena faktor pertengkaran yang dipicu masalah ekonomi.

"Yang paling banyak (perceraian) itu karena pertengkaran," katanya, Selasa, (15/6/2021).

Masih kata Wachid, untuk masalah ekonomi sendiri bukan karena suami tidak menafkahi istri. Akan tetapi meski penghasilan suami cukup, tetapi kalau pelit terhadap istri juga jadi penyebab pertengkaran. Istri sudah dicukupi, tetapo boros juga jadi alasan.

"Sama-sama punya penghasilan, tapi tidak bisa mengelola keuangan, utang banyak, sering kami temukan. Istri semena-mena karena penghasilan lebih tinggi. Tapi, kalau itu masuk alasan psikologis," ungkapnya.

Sementara itu, alasan suami menalak istri didominasi karena perselingkuhan. "Biasanya kalau istri selingkuh tipe yang bukan diam di rumah. Sama-sama bekerja dan punya penghasilan," katanya.

Halaman
123
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved