Breaking News:

Berita Surabaya

Angka Perceraian Di Surabaya Masih Tinggi, Ini Yang Perlu Diperhatikan

Angka perceraian di Surabaya terbilang masih tinggi. Mencapai 68 persen. Mayoritas istri menggugat cerai suami daripada suami yang menggugat talak

Penulis: Samsul Arifin | Editor: Yoni Iskandar
Surya/samsul Arifin
Humas PA Surabaya, Wachid Ridwan saat ditemui di PA Surabaya, Selasa, (15/6/2021) 

Dampak buruk dari perceraian ini adalah masa depan anak. Tidak jarang hakim menemukan kasus anak yang trauma karena ayah dan ibunya tidak pernah akur.

Terlebih bagi mereka yang turut menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

"Suami sering KDRT terhadap istri di depan anaknya. Anaknya cenderung jadi pendiam karena trauma," terang Wachid kepada TribunJatim.com.

Upaya perdamaian telah dilakukan pihak PA Surabaya dengan memediasi terlebih dahulu. Guna membatalkan niat bercerainya.

"Hakim wajib mendamaikan," imbuhnya.

Menurut Wachid, ada empat tahapan mediasi sebelum pasangan suami istri resmi bercerai. Satu tahapan di KUA dan tiga lain di PA.

Menurut dia, hakim punya trik-trik untuk mendamaikan pasangan suami istri yang sudah diambang perceraian.

Meskipun lebih banyak yang gagal, tetapi cara itu terkadang juga berhasil. Misalnya, hakim bisa mengajak mereka mengenang masa lalu saat bermesraan sebelum menikah atau ketika baru menikah.

"Kami lihat di posita gugatan, ketika nikahnya baru, lebih mudah dan bisa jadi pintu masuk. Ada juga yang berhasil," katanya.

Setelah mediasi hakim gagal, pasutri akan dimediasi lagi oleh mediator yang sudah terverifikasi Mahkamah Agung.

Halaman
123
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved