Breaking News:

Berita Magetan

Polusi Limbah Penyamakan Kulit Ilegal di Magetan Meresahkan Warga

Limbah beracun yang dibuang pengusaha penyamak kulit ilegal yang mayoritas hampir tidak memiliki Instalasi Pengolah Air Limbah (IPAL) dan dibuang di s

Penulis: Doni Prasetyo | Editor: Yoni Iskandar
Surya/ Doni Prasetyo
Supardi, warga Dusun Setugu, Desa Mojopurno, Kecamatan Ngariboyo, Kabupaten Magetan, Jawa Timur menunjukan sungai kecil yang penuh buih buih putih yang hampir tidak ada kehidupan. Bahkan akibat pencemaran limbah beracun yg diduga dibuang pemilik usaha penyamakan kulit ilegal yang tidak memiliki Instalasi Pengolah Air Limbah (IPAL) dan berada dekat pemukiman warga 

Reporter : Doni Prasetyo | Editor : Yoni Iskandar

TRIBUNJATIM.COM, MAGETAN - Limbah beracun yang dibuang pengusaha penyamak kulit ilegal yang mayoritas hampir tidak memiliki Instalasi Pengolah Air Limbah (IPAL) dan dibuang di sungai yang sebelumnya biasa untuk mengairi sawah tadah hujan di sepanjang sungai itu.

Ironisnya, Pemerintah Kabupaten Magetan, seperti tidak tahu menahu terkait pencemaran lingkungan yang parah ini. Bahkan Dinas Lingkungan Hidup sepertinya tidak pernah tahu.

Padahal warga setempat mengaku kerap mengadukan masalah polusi lingkungan ini. Namun, sampai tahun 2021 ini belum sekali pun ada pemeriksaan lingkungan dan kesehatan warga setempat.

Selain limbah beracun yang mencemari air sungai, sehingga tidak bisa digunakan untuk mengair tanah pertanian. Polusi udara yang menyerupai bau amoniax itu, tiap saat dihirup warga setempat, tidak sedikit warga menderita sesak nafas karena menyium aroma menyengat itu.

"Sebelum tiga tahu lalu, saya menyirami padi padi ini cukup dengan air sungai ini. Tapi sejak tiga tahun lalu saya terpaksa buat sumur dalam diujung tanah sawahnya," kata Supardi warga Dusun Setugu, Desa Mojopurno, Kecamatan Ngariboyo, Kabupaten Magetan, Jawa Timur kepada Surya, Selasa(15/6).

Baca juga: Manfaatkan Limbah Kulit Sapi Menjadi Produk Tas Cantik, Fauziah Utami Mampu Raup Rp 30 Juta Sebulan

Diungkapkannya, waktu awal awal air sungai tercemari. Padi yang disirami dengan air sungai ini menjadi 'gabuk' (butir butir padi kosong). Dan itu dialami beberapa kali musim tanam oleh petani sepanjang sungai ini karena ketidaktahuaannya.

"Setelah banyak yang tahu kita patungan buat sumur dalam. Rata rata kedalaman sumur mencapai 40 meter. Setelah menggunakan air sumur, padi tumbuh subur. Tapi biaya tanam juga tambah, karena penggunaan pompa,"katanya.

Kepala Bidang (Kabid) Lingkungan Hidup Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Magetan, Yassin saat dikonfirmasi hanya seperti pendengar dan terlihat seperti tidak tahu atau pura pura tidak adanya pencemaran lingkungan itu.

"Iya coba kita akan melihat sungai di Mojopurno itu,"kata Kabid LH, Yassin singkat.

Padahal seorang pegawai Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Magetan warga Ngariboyo mengaku resah dengan pencemaran lingkungan akibat buangan limbah penyamakan kulit di wilayah Mojopurno, Ngariboyo itu di sepanjang sungai di wilayah desanya.

Malah seorang warga setempat yang mengeluh dan menyampaikan pencemaran itu diintimidasi lewat beberapa voice call. Karena dianggap serius kabarnya ada LSM yang akan mendampingi warga ke Polisi setempat.

"Polisi Polda Jatim kan bisa juga melakukan tes kadar pencemaran lingkungan ini. Selain itu intimidasi yang dianggap serius ini juga akan dilaporkan LSM itu ke Polisi dengan bukti bukti yang dikumpulkan warga," kata warga Mojopurno, yang identitasnya minta tidak disebut.


Berita tentang limbah Kulit

Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved