Breaking News:

Berita Surabaya

APTRI Minta Kesejahteraan Petani Tebu Ditingkatkan dengan Tingkatkan Harga Jual Tebu

Ketua Umum DPN APTRI Soemitro Samadikoen mendesak agar kesejahteraan petani gula ditingkatkan

Editor: Januar Adi Sagita
Istimewa/TribunJatim.com
Ilustrasi gudang gula 

Editor: Januar AS

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Ketua DPD APTR PTPN XI Jawa Timur Edy Sukamto mendesak agar kesejahteraan petani gula ditingkatkan. 

Caranya melalui peningkatan harga jual tebu. 

Selain itu, Edy juga meminta agar petani dan APTRI tidak dikait-kaitkan dengan persoalan mahalnya gula rafinasi di Jawa Timur dan isu permintaan kuota impor raw sugar untuk pabrik gula di Jatim.

"Lah aneh, gula petani sendiri gak laku kok minta kuota impor. Anehnya lagi untuk apa petani ngurusin UMKM? Lalu kenapa UMKM di Jatim aja yang ribut, sementara UKM di Jawa Barat dan Jawa Tengah yang jauh lebih besar kok tenang-tenang aja. Ada apa ini?" tanya Edy dalam siaran pers yang diterima redaksi, Rabu (16/6/2021).

Ia menilai gerakan protes yang dilakukan di Jawa Timur menurutnya semakin 'ngawur'.

"Apa urusannya petani dengan Permenperin 3 Tahun 2021? Itu kan urusan pabrik gula rafinasi," ujarnya.

Fokus perhatian Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia adalah meningkatkan kesejahteraan petani tebu dengan cara meningkatkan harga jual tebu dan kualitas tebu. Bukan mengurusi isu penambahan kuota impor dan nasib UMKM.

Edy memastikan APTRI dengan tegas menolak penambahan impor dan pendirian pabrik gula rafinasi di Jawa Timur.

Baca juga: Kelurahan Ngronggo Dinobatkan Sebagai Kampung Tangguh Bersih Narkoba

Dengan kondisi saat ini saja gula rafinasi bocor ke pasar konsumsi dan mengakibatkan kondisi gula petani terpukul. Kondisi petani akan lebih sengsara jika ada pabrik gula rafinasi di Jawa Timur.

Edy mensinyalir bahwa nama petani dan UMKM telah dicatut sejumlah oknum baik di pusat maupun di Jawa Timur agar ada penambahan kuota impor raw sugar dan ijin produksi gula rafinasi di Jawa Timur.

Sebagaimana diketahui, dalam beberapa hari terakhir ini muncul kritik yang dsampaikan sejumlah politisi dan pengamat ekonomi tentang diberlakukannya Permenperin 3/ 2021.

Kebijakan tersebut disebut-sebut sebagai penyebab tingginya harga gula di Jawa Timur karena konsumen harus menanggung biaya angkut dari dari Banten (pebrik Gula Rafinasi ke Jawa Timur).

UMKM dan petani tebu dikabarkan terpukul. Terkait kondisi itu, muncul desakan agar diberikan ijin impor dan produksi gula rafinasi kepada PT KTM di Lamongan Jawa Timur.

Kumpulan berita Surabaya terkini

Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved