Breaking News:

Kisah Miris Sopir Truk Dipalak Preman, Speedometer dan Ban Serep Bisa Raib Bila Tolak Bayar Upeti

Begini kisah miris sopir truk dipalak preman harus rogoh kocek tambahan jika ingin perjalanan aman atau speedometer dan ban serep truk raib.

Penulis: Luhur Pambudi | Editor: Mujib Anwar
TribunJatim.com/Sugiharto
Sejumlah kendaraan besar dan truk saat melintas di jalanan Kota Surabaya. 

"Kalau enggak, kena ngeban (ban bocor). Seperti saya kemarin Rp105 ribu. Ya hasilnya seperti kantong saya ini. Ini hasilnya sopir, ini Rp50 ribu, dikira banyak hasilnya, ya begini ini hasilnya. Kalau apes (kena pungli) ya wasalam, tinggal telpon pengurusnya," ujarnya seraya menunjukkan kuitansi hasil pembayaran tambal ban.

Oleh karena itu, Yono berharap, pihak berwajib makin serius dalam mengusut setiap aksi premanisme yang belakangan menjadi modus tindakan kriminalitas yang mengancam ketertiban dan keamanan masyarakat.

Meskipun ia mengakui, dibandingkan kawasan Jabar, kawasan Jatim hingga Jateng, terpantau aman, atau tidak terlalu marak aksi premanisme; pemalakan yang menargetkan sopir sebagai korbannya.

"Saya rasa yang tegas (bertindak) aja," tegasnya.

Sementara itu, Kepala Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polresta Sidoarjo Kompol Muhammad Wahyudin Latif mengungkapkan, beberapa waktu lalu, pihaknya pernah berhasil mengungkap tindakan kejahatan pengerusakan; pecah kaca.

Berdasarkan hasil penyidikan yang dihimpun, para pelaku tidak memiliki motif memperoleh keuntungan dari aksi pelemparan kaca tersebut. Namun lebih kepada disebabkan oleh motif iseng semata.

Mantan Kasat Reskrim Polres Tuban itu mengaku, pihaknya telah mengantongi sejumlah kawasan yang terbilang rawan dan acap terjadi insiden serupa.

Sehingga, kini Polresta Sidoarjo terus berupaya melakukan tindakan preventif dengan cara menggiatkan mekanisme pengamanan dan ketertiban masyarakat; melalui patroli secara berkala dalam intensitas tinggi.

"Mengantisipasi hal itu, ya kami akan gencar lakukan patroli, dari unit, untuk digalakkan dan ditingkatkan," ujar mantan Wakil Kepala Satreskrim Polrestabes Surabaya saat dihubungi TribunJatim.com, Selasa (16/6/2021).

Pemberantasan gangguan ketertiban dan keamanan masyarakat berupa pemberantasan aksi kejahatan bermodus premanisme, terus dilakukan oleh Polresta Sidoarjo.

Hingga Selasa (15/6/2021), Satreskrim Polresta Sidoarjo sedikitnya telah mengamankan 52 orang preman dari sejumlah kawasan objek vital masyarakat.

Mulai dari kawasan Terminal Purabaya, pasar, ruas jalan utama, dan persimpangan jalan. Namun, menurut Wahyudin, sebagian besar preman yang berhasil ditangkap berasal dari kawasan Terminal Purabaya.

Sebagian besar dari mereka, dikenai tindak pidana ringan (Tipidring). Yakni Pasal 49 Jo Pasal 17 Perda Jatim No 2 tahun 2020 tentang perubahan atas perda Jatim No 1 tahun 2019 tentang penyelenggaraan ketentraman, ketertiban dan perlindungan masyarakat.

Ancaman hukuman pidana kurungan penjara maksimal 3 bulan atau denda Rp50 Juta.

"Mereka meminta atau malakin duit aja. Kayak Pak Ogah (polisi cepek). Meminta parkir tanpa disertai legalitas yang jelas. Kemudian malak di PKL pinggir jalan," pungkas Kompol Muhammad Wahyudin Latif.

Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved