Breaking News:

Baru Ada 30 Outlet, Potensi Pertashop di Malang Raya Bisa Capai 2.200 Kelurahan/Desa

Ada 30 outlet yang sudah operasional maupun masih progres pembangunan, potensi Pertashop di Malang Raya bisa mencapai 2.200 kelurahan/desa.

Editor: Dwi Prastika
ISTIMEWA/TRIBUNJATIM.COM
Sales Branch Manager I Pertamina Malang, Ahmad Ubaidillah M, bersama Manager Business Banking Kantor Wilayah 18 Malang, Ahmad Sukron M, dan Direktur BUMDesma Singosari, Agus Sudrikamto saat tampil dalam Webinar bertema: Pertashop Potensi Pusat Ekonomi Baru Pedesaan, yang digelar Tribun Jatim Network, Rabu (16/6/2021). 

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - PT Pertamina (Persero) terus agresif mengenalkan kemitraan Pertashop di berbagai daerah.

Dengan tagline One Village One Outlet (OVOO), Pertamina menargetkan bisa melayani masyarakat dengan produk bahan bakar minyak (BBM) Pertamax hingga ke pelosok daerah.

"Tidak hanya kecamatan, tapi juga hingga ke pelosok pedesaan. Itu sesuai tagline One Vilage One Outlet," kata Sales Branch Manager I Pertamina Malang, Ahmad Ubaidillah M, saat tampil dalam Webinar bertema: Pertashop Potensi Pusat Ekonomi Baru Pedesaan, yang digelar Tribun Jatim Network, Rabu (16/6/2021).

Untuk di wilayah Malang Raya, Ahmad Ubaidillah menyebutkan, ada potensi kelurahan dan desa sebanyak 2.200. Sementara untuk keberadaan outlet Pertashop di wilayah ini, baik yang sudah operasional maupun masih progres pembangunan baru sekitar 30 outlet.

"Jadi potensinya masih besar. Apalagi target kami kehadiran Pertashop ini bisa mendukung pertumbuhan ekonomi desa dengan menyediakan produk BBM non subsidi dari Pertamina yang mudah dicapai di pelosok," ungkap Ubaid, panggilan akrab Ahmad Ubaidillah.

Kehadiran Pertashop di wilayah pelosok bisa dikelola perorangan maupun kelompok dengan bentuk badan usaha CV, PT, UD bahkan BUMDes (Badan Usaha Milik Desa). Tentunya selain mencukupi kebutuhan masyarakat terhadap BBM berkualitas baik, juga bisa mendorong peningkatan sektor usaha lainnya. Karena Pertashop juga bisa menyediakan produk LPG non subsidi dengan ukuran mulai 5,5 kg, minyak pelumas kendaraan produk Pertamina dan lainnya.

"Ada potensi usaha di sektor lainnya. Misalnya UMKM menggunakan bahan bakar gas LPG non subsidi yang secara lokasi mudah didapat, sehingga biaya transportasi bisa ditekan. Juga usaha bengkel ganti oli dengan produk Pertamina, dan ambil olinya cukup di Pertashop yang paling dekat," jelas Ubaid.

Apalagi di wilayah Malang Raya ini, dalam hitungannya, per desa, rata-rata memiliki penduduk 3.000 jiwa. Dengan asumsi satu keluarga empat orang, ada sekitar 750 Kepala Keluarga (KK). Masing-masing KK memiliki satu unit sepeda motor dengan kebutuhan per hari 1 liter BBM, potensi pembelian BBM per hari bisa mencapai 750 liter.

"Sementara salah satu jenis kemitraan Pertashop kami ada yang ditargetkan per hari minimal 400 liter. Tentunya potensi itu cukup besar, apalagi bila trafik lalu lintas kendaraan di desa tersebut lebih dari jumlah KK yang memiliki kendaraan," jelas Ubaid.

Saat ini saja, salah satu Pertashop di salah satu desa di Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang, yang telah operasional, bisa menjual per hari 1.000 liter. Jumlah yang lebih besar dibanding target.

"Pengelola mengaku akan bisa BEP dalam tiga tahun. Padahal target kami BEP dalam lima tahun dengan per hari penjualan minimal 400 liter," lanjut Ubaid yang menjadi pembicara bersama Manager Business Banking Kantor Wilayah 18 Malang, Ahmad Sukron M, dan Direktur BUMDesma Singosari, Agus Sudrikamto.

Pertashop (Pertamina Shop) adalah outlet penjualan Pertamina berskala tertentu yang dipersiapkan untuk melayani kebutuhan konsumen BBM non subsidi, LPG non subsidi, dan produk ritel Pertamina lainnya dengan mengutamakan lokasi pelayanannya di desa atau di kota yang membutuhkan pelayanan produk ritel Pertamina.

Kemitraan Pertashop, adalah dengan Pertamina menyediakan perangkatnya, yang meliputi totem, tangki, dispenser berikut instalasinya.

Ada tiga pilihan investasi atau modal untuk Pertashop ini.

Pertama, skema kategori Gold, dengan luasan area 210 meter persegi, cukup investasi Rp 250 juta.
Kedua, skema Platinum, dengan modal Rp 400 juta yang mencakup biaya Pertashop dan instalasinya. Dimungkinkan menjual LPG Bright Gas dan Pelumas Pertamina. Ketiga, Skema Diamond, modal yang diperlukan untuk skema ini Rp 500 juta yang meliputi biaya Pertashop dan instalasinya.

Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved