Breaking News:

Ekonom Senior Khawatirkan Soal Tarif Cukai Rokok Naik: Efek Domino Buruk Bisa Terjadi

Ekonom senior dari INDEF khawatirkan soal tarif cukai rokok naik, sebut efek domino buruk bisa terjadi.

Penulis: Fikri Firmansyah | Editor: Dwi Prastika
TribunJatim.com/Fikri Firmansyah
Salah satu hasil olahan industri tembakau, rokok. 

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Ekonom senior dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Enny Sri Hartati berpendapat, jika cukai akan kembali naik, terlebih di masa pandemi Covid-19 (virus Corona), pasti akan memberatkan Industri Hasil Tembakau (IHT) .

Kekhawatiran soal tarif cukai yang naik akan memberatkan IHT, kata dia, bukan didasari karena penanganan yang belum baik saja, namun juga dari sisi daya beli masyarakat belum bisa pulih dalam waktu dekat.

“Padahal, tidak bisa dipungkiri rokok memang salah satu barang konsumsi utama masyarakat Indonesia, tapi kalau yang legal dinaikkan, justru meningkatkan permintaan terhadap rokok ilegal,” kata Enny, dalam siaran tertulis ke TribunJatim.com, Kamis (1/7/2021).

Hal itu disampaikan Enny saat dialog virtual membahas isu kenaikan CHT, dan  rencana simplifikasi dan dampaknya terhadap Industri Hasil Tembakau di Indonesia.

Selain Enny Sri Hartati, dialog virtual ini juga diikuti oleh Ketua Gabungan Perusahaan Rokok (GAPERO), Sulami Bahar, Ketua Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI), Henry Najoan, dan Anggota Komisi XI Fraksi Golkar, Mukhamad Misbakhun.

Dia menggambarkan, ketika celah kekosongan pasokan dari produk legal akan diisi oleh produk ilegal, maka dari sisi konsumsi tentunya akan banyak efek domino buruk.

Perdagangan rokok ilegal, kata Enny, tidak akan menerapkan azas-azas keamanan yang ditetapkan pemerintah seperti yang diterapkan pada pelaku niaga rokok legal.

Terlebih, kini penjualan rokok ilegal bisa dilakukan di mana saja, sehingga konsumsinya pun makin tidak terkontrol.

Baca juga: Kekhawatiran GAPPRI Jika Tarif Cukai Naik Lagi: Rokok Ilegal Bisa Makin Meningkat

“Salah satunya target prevalensi perokok pada usia dini. Bisa makin jauh. Rokok ilegal dijual bebas dan lebih murah, jadinya siapa saja bisa mendapatkannya. Di masa pandemi seperti ini produksi rokok legal bisa saja turun, tapi permintaan riilnya bisa tetap stabil atau naik karena diisi oleh rokok ilegal,” ujar Enny.

Berkaca dari analisa tersebut, menurut Enny, maka jika terjadi, hal ini tidak hanya merugikan pelaku IHT di segala layer, tapi juga pemerintah yang tidak akan mendapat tambahan penerimaan negara.

Dikatakannya pula, dalam kajian yang dilakukan INDEF pada tahun 2020 lalu, setidaknya ada kerugian negara dari penerimaan yang tidak optimal karena rokok ilegal sebesar Rp 4,38 triliun.

“Perlu diketahui juga, kerugian ini hanya berasal dari data realisasi tindakan yang dilakukan Bea Cukai, seperti yang kita tahu rokok ilegal masih sangat marak,” tambahnya.

Usai Enny mengikuti dialog virtual membahas isu kenaikan CHT, dan  rencana simplifikasi dan dampaknya terhadap Industri Hasil Tembakau di Indonesia ini, Kamis malam datang kabar duka, bahwa Ekonom senior dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Enny Sri Hartati tersebut meninggal dunia.

Selamat jalan Bu Enny.

Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved