Breaking News:

Kekhawatiran GAPPRI Jika Tarif Cukai Naik Lagi: Rokok Ilegal Bisa Makin Meningkat

Ketua GAPPRI, Henry Najoan ungkap kekhawatiran jumlah rokok ilegal meningkat, apabila tarif cukai naik lagi.

Penulis: Fikri Firmansyah | Editor: Hefty Suud
TribunJatim.com/Fikri Firmansyah
Salah satu hasil olahan industri tembakau, rokok. 

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI) menilai bahwa kenaikan cukai dan simplifikasi adalah faktor pendorong besar tekanan industri.

Hal tersebut dikatakan oleh Ketua GAPPRI, Henry Najoan.

“Kita lihat saja sekarang ini produksi sudah turun. Nanti bisa sangat berkurang lagi,” katanya, Kamis (1/7/2021) dalam siaran tertulis ke TribunJatim.com.

Dia menjelaskan, simplifikasi tarif cukai akan paling dirasakan oleh produsen tembakau golongan II dan III, atau yang produksinya belum mencapai tiga miliar batang .

Baca juga: Wali Kota Blitar Santoso Minta Ketua RT Aktif Sosialisasi Stop Peredaran Rokok Ilegal

Menurut Henry, jika kembali diberlakukan, di tengah pandemi virus Corona ( Covid-19 ), efek terbesar adalah hilangnya produsen tembakau.

“Imbasnya pasti yang akan berguguran duluan golongan II dan III, dan jika demikian, nanti rokok ilegal makin meningkat,” sambung dia.

Berkaca dari hal itu, Dia meminta perlindungan pemerintah ke industri terus ada, termasuk rokok jenis kretek.

“Peraturan-peraturan yang menyebabkan industri ini makin terpuruk, misalnya ya, ancaman aturan simplifikasi dan kenaikan cukai yang eksesif.

Baca juga: Bahaya Dikonsumsi Rokok Tanpa Pita Cukai, Bea Cukai Madiun: Memperjualbelikan Bisa Dijerat Pidana

Ia menambahkan, "Ini tentunya akan terus mempengaruhi serapan bahan baku dari petani, mengganggu tenaga kerja, mengganggu pendapatan dari para pengecer atau penjual rokok, dan pendapatan negara dalam hal cukai dan perpajakan.”

Henry mencontohkan, berkaca kebelakang, fakta dilapangan, tidak lama setelah Kementerian Keuangan menaikkan tarif rata-rata cukai rokok tahun 2020 sebesar 23 persen, jumlah rokok ilegal justru naik hampir 60 persen.

"Bahkan, data survei terakhir Kementerian Keuangan menyebut, pada tahun 2019 rokok ilegal ada di kisaran 3 persen, dan naik 4,8 persen di tahun 2020. Pola ini sangat mungkin terulang bahkan meningkat, ketika tarif cukai kembali naik 12,5 persen tahun 2021," pungkasnya.

Berita tentang Jawa Timur

Berita tentang peredaran rokok ilegal

Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved