Breaking News:

Tuntutan Penambahan Kuota Impor Raw Sugar Harus Diwaspadai

Ketua Forum Peduli Komoditas Gula (FPKG) Slamet Poerwadi memberi warning terkait tuntutan impor raw sugar.

Editor: Ndaru Wijayanto
TribunJatim.com/istimewa
Ketua Forum Peduli Komoditas Gula (FPKG) Slamet Poerwadi. 

TRIBUNJATIM.COM - Ketua Forum Peduli Komoditas Gula (FPKG), Slamet Poerwadi mengingatkan publik untuk mewaspadai pihak-pihak yang menuntut penambahan kuota impor raw sugar untuk kepentingan perusahaan tertentu, dengan dalih untuk kepentingan petani tebu dan UKM.

Bahwa persetujuan importasi untuk pemenuhan kekurangan gula kristal putih (GKP) untuk memenuhi kekurangan kebutuhan konsumsi rumah tangga maupun untuk memenuhi kebutuhan gula kristal rafinasi bagi industri makanan dan minuman serta farmasi, sudah melalui perhitungan dan survey cermat oleh pemerintah cq kementerian terkait.

Menurutnya, tidak mungkin petani tebu meminta ' impor raw sugar '. Petani dipastikan fokus untuk menjual tebunya.

Demikian pula dengan UKM. Tidak semua UKM butuh gula rafinasi (GKR). "Hanya UKM yang terdaftar yang membutuhkan gula rafinasi," ujarnya, dalam siaran tertulis ke TribunJatim.com, Senin (5/7/2021).

Menurut Slamet Poerwadi, terkait dengan upaya swasembada gula, sebaiknya pemerintah dan pabrik gula fokus untuk menutupi defisit gula konsumsi rumah tangga (GKP), dimana rata2 kebutuhan per tahummya antara 600 – 800 ribu ton dari total kebutuhan GKP 3 juta ton per tahun.

Selanjutnya, masih menurut Slamet, bahwa pemenuhan kebutuhan GKR untuk industri mamin dan farmasi sudah 'firmed'.

Jadi tidak perlu mempersoalkan gula untuk kepentingan industri mamin yang pasokannya sudah tercukupi. Sehingga tidak mungkin defisit.

“Pembangunan pabrik baru gula rafinasi sejak sekitar tahun 2009 itu sudah diminta Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) untuk ditetapkan sebagai daftar negatif investasi. Jika ada pembangunan PG rafinasi baru harus dihitung secermat mugkin. Karena para petani kawatir akan kelebihan produk GKR yang berujung pada perembesan GKR pada pasar GKP. Sehingga dengan 11 pabrik GKR saat ini sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan insustri mamin," bebernya.

Menurut Doktor bidang ekonomi UII Yogyakarta itu, terkait dengan wacana swasembada gula, maka fokus diskusinya adalah pada dua hal utama yakni ekstensifikasi dan intensifikasi lahan. Bukan pada penambahan kuota impor raw sugar.

“Tidak logis jika wacana swasembada dikaitkan dengan penambahan kuota impor raw sugar. Mestinya perluasan lahan tebu diluar jawa (ekstensifikasi, mengingat makin langkanya lahan di Jawa dan mahal biaya eksploitasinya) dan intensifikasi terhadap lahan tebu yang sudah ada, sehingga produktifitas tebu per Ha maupun rendemennya meningkat (hablur per Ha sangat memberikan profit petani, di atas 7 ton per hektar,” jelasnya.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved