Breaking News:

Industri Kecil dan Menengah (IKM) Mamin Tetap Tumbuh Positif di Jawa Timur

Jawa Timur menjadikan industri makanan dan minuman (mamin) sebagai salah satu industri andalan yang terus dikembangkan bersama dengan 7 industri lain.

Editor: Ndaru Wijayanto
TribunJatim.com/Fikri Firmansyah
(Dua dari kiri) Gati Wibawaningsih selaku Direktur Industri Kecil, Menengah dan Aneka, Kemenperin saat hadir di acara Business Matching IKM Tanggulangin, Kamis (5/12/2019) di Balai Pengembangan Industri Persepatuan Indonesia Komplek Pasar Wisata Tanggulangin, Sidoarjo. 

TRIBUNJATIM.COM - Pemerintah Provinsi Jawa Timur menjadikan industri makanan dan minuman (mamin) sebagai salah satu industri andalan yang akan terus dikembangkan bersama dengan 7 industri lainnya seperti tekstil dan alas kaki, industri kertas, industri farmasi dan lainnya.

Berdasarkan data BPS pada 2020 lalu terdapat 191 ribu perusahaan yang bergerak di bidang industri kecil mamin. Nilai transaksi yang dihasilkan industri ini pun menempati posisi tertinggi dalam neraca perdagangan di Jawa Timur.

Posisinya menempati urutan pertama dengan nilai Rp115,73 triliun atau 22% dari arus dagang yang keluar dari Jatim. Sedangkan untuk arus keluar lebih besar lagi yakni mencapai 33% atau 124,6 triliun.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur, Drajat Irawan mengatakan bahwa pihaknya terus memperbaiki sejumlah kendala yang dihadapi Industri Kecil dan Menengah (IKM) pangan di Jatim. Misalnya saja untuk standarisasi, pihaknya melakukan pendampingan agar pelaku usaha berhasil meraih sertifikasi yang dibutuhkan.

"Dalam hal pembiayaan, kita ada Bank Jatim dan bank-bank BUMN yang mendukung. Juga ada Jamkrinda sebagai penjamin kredit," ujarnya dalam focus group discussion yang digelar secara daring, Senin (12/7/2021), sebagaimana siaran tertulis ke TribunJatim.com.

Baca juga: Digempur Pandemi, Pelaku Industri di Trenggalek Ini Justru Bisa Berkembang

Direktur Jenderal Industri Kecil Menengah dan Aneka Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Gati Wibawaningsih yang hadir dalam diskusi memaparkan pentingnya pelaku usaha memperhatikan kemasan. Hal ini juga merupakan arahan Presiden Joko Widodo.

"Beliau mengatakan, jangan sampai barang yang kualitas bahan bakunya bagus, enggak bisa masuk pasar karena packagingnya atau kemasannya jelek," jelasnya.

Gati Wibawaningsih cukup optimistis bahwa produk yang dihasilkan IKM dapat menembus pasar lokal dan ekspor. Pihaknya sebagai pembina industri terus mengupayakan berbagai hal guna membuat industri dapat terus tumbuh bekembang.

Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman (GAPMI) Adhi Lukman juga menyinggung masalah pemenuhan standardisasi masih menjadi hal yang perlu diperhatikan IKM pangan untuk menembus pasar ekspor.

Namun saat ini ia melihat semakin banyak IKM yang mulai berubah dan memenuhi standar serta Regulasi dan bahkan mulai produksi makanan minuman yang menyehatkan.

Baca juga: Geliat Industri Olahan Kopi di Jatim, Nilai Ekspor Naik 1,73 Persen, Jadi Produsen Terbesar se-Jawa

Oleh karena itu ia optimistis apabila IKM mamin akan memaikan peran yang besar ke depan seiring dengan makin membesarnya pasar di dalam dan luar negeri.

"Namun ada satu hal yang perlu saya jelsakan terkait isu yang berkembang saat ini terhadap pasokan bahan baku industri mamin, gula rafinasi. Bila memang pelaku usaha ada kesulitan (akses gula rafinasi) silahkan berkoordinasi dengan dinas setempat," tegas Adhi Lukman.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved