Breaking News:

Berita Surabaya

Polda Jatim Bongkar Kasus Penimbun Tabung Oksigen dan Jual Melebihi HET di Sidoarjo

Kasus penimbunan alat kesehatan kembali terbongkar. Kali ini, Subdit III Jatanras Ditreskrimum Polda Jatim menyita 129 tabung oksigen berbagai ukuran

Penulis: Samsul Arifin | Editor: Ndaru Wijayanto
Humas Polda
Polda Jatim bongkar kasus dugaan penimbunan tabung oksigen. 

Reporter : Syamsul Arifin I Editor: Ndaru Wijayanto

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Kasus penimbunan alat kesehatan kembali terbongkar. Kali ini, Subdit III Jatanras Ditreskrimum Polda Jatim menyita 129 tabung oksigen berbagai ukuran yang dijual melebihi Harga Eceran Tertinggi (HET). 

Kapolda Jatim, Irjen Pol Nico Afinta menyebutkan tabung oksigen berukuran satu meter kubik itu seharga Rp750 ribu. Tapi justru dijual Rp1,350 juta. 

"Ada yang mencari keuntungan dengan menjual 2-3 kali lipat," ujarnya saat merilis kasus ini di Mapolda Jatim, Senin, (12/7/2021).

Ada tiga orang berinisial AS, TW dan FR yang berkaitan dengan kasus penimbunan ini. Kini, mereka masih menjalani pemeriksaan. 

Mulanya FR memperoleh tabung oksigen ini dari AS dan TW yang merupakan kakak beradik. 

Keduanya menjual tabung oksigen tersebut melalui Facebook dan grup WhatsApp

"Kami akan lakukan penyelidikan lebih lanjut. Kami menghimbau kepada masyarakat tidak usah membeli untuk disimpan lebih parah bila untuk dijual lagi di tengah pandemi ini," imbaunya. 

Ternyata AS sudah menyiapkan tabung oksigen serta isinya yang dibeli dari depo dan pengisian oksigen dari PT S dan PT NI dengan harga Rp700 ribu. 

Artinya, AS dan TW dalam aksinya mendapat keuntungan Rp650 ribu per tabung oksigen ukuran satu meter kubik. 

"Kami lakukan pendalaman tabung gas ini kami serahkan kembali ke pemiliknya supaya diserahkan ke yang membutuhkan dengan harga sesuai," jelas jenderal polisi dua bintang ini. 

Jika AS dan TW terbukti bersalah, mereka akan dikenakan Pasal 62 Ayat (1) Jo Pasal 10 UU Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.

Dengan ancaman pidana maksimal lima tahun penjara atau denda paling banyak Rp2 miliar.

Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved