Breaking News:

Berita Malang

Proyek GOR Kanjuruhan dan Pasar Sumedang di Kabupaten Malang Tersendat Akibat Pandemi Covid-19

Pembangunan proyek Gelanggang Olahraga (GOR) Kanjuruhan dan Pasar Sumedang di Kepanjen Kabupaten Malang tersendat.

Penulis: Erwin Wicaksono | Editor: Ndaru Wijayanto
surya/erwin
Potret terkini Pasar Sumedang dan GOR Kanjuruhan di Kepanjen, Kabupaten Malang. 

Laporan Wartawan Tribun Jatim Network, Erwin Wicaksono

TRIBUNJATIM.COM, MALANG - Pembangunan proyek Gelanggang Olahraga (GOR) Kanjuruhan dan Pasar Sumedang di Kepanjen Kabupaten Malang tersendat.

Pandemi Covid-19 jadi alasan mangkraknya dua proyek bernilai anggaran fantastis itu.

Sekretaris Daerah Kabupaten Malang, Wahyu Hidayat menjelaskan pandemi Covid-19 membuat pihaknya melakukan refocusing anggaran untuk penanganan pandemi.

"GOR ini ada beberapa kendala teknis salah satunya refocusing anggaran. Kalau Pasar Sumedang ini hanya tinggal finishing saja, itu sudah kami anggarkan. Tapi kena refocusing," terang Wahyu ketika dikonfirmasi pada Senin (26/7/2021).

Pembangunan GOR Kanjuruhan tahap pertama dimulai pada tahun 2019. Tahap pertama pembangunan menelan biaya sebesar Rp 14 miliar.  

Seiring waktu berjalan, pembangunan GOR Kanjuruhan tahap kedua dikabarkan akan berlanjut, biaya yang dibutuhkan kabarnya mencapai Rp 10 miliar.

Pandemi Covid-19 kemudian menerjang, hingga akhirnya pembangunan GOR berkapasitas 7 ribu orang itu mangkrak hingga kini.

Berdasarkan pantauan di lokasi, GOR Kanjuruhan kini ditumbuhi tumbuhan liar. Atap GOR sudah tepasang dengan ditopang  beberapa tiang. Namun, bagian dalam GOR masih belum rampung.

Sementara itu, kondisi serupa juga menimpa proyek Pasar Sumedang. Bangunan pasar yang berlokasi di Kelurahan Cempokomulyo tersebut sejatinya sudah rampung. Namun bagian pagar belum ada.

Mandeknya penempatan pasar yang dibangun sejak 2017 itu belum dikarenakan beberapa sebab.

Selain refokusing anggaran, Dinas Perdagangan masih menunggu penyerahan fasilitas tersebut dari dinas yang menangani pembangunan pasar yakni Dinas Perumahan Kawasan Permukiman dan Cipta Karya (DPKPCK) Kabupaten Malang.

"Rata-rata (lambatnya pembangunan) karena refocusing. Apalagi dengan perpanjangan PPKM level saat ini kami harus mengevaluasi anggaran. Karena BTT (belanja tidak terduga) kita tinggal Rp 3,5 miliar, sudah sangat limit (terbatas) sekali. Otomatis kami harus mengavaluasi," terangnya.

Terakhir Wahyu tak menampik pandemi Covid-19 jadi biang kerok lambatnya pembangunan proyek fisik di Kabupaten Malang.

"Rata-rata proyek strategis pembangunan fisik seperti jalan dan bangunan (yang terdampak Covid-19)," tutupnya.

Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved