Breaking News:

Berita Nganjuk

BMKG Prediksi Puncak Musim Kemarau, Warga Nganjuk Diimbau Waspadai Bencana Kekeringan dan Kebakaran

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi wilayah Kabupaten Nganjuk memasuki puncak musim kemarau di bulan Agustus hingga Septem

Penulis: Achmad Amru Muiz | Editor: Ndaru Wijayanto
TRIBUNMADURA.COM/HANGGARA PRATAMA
ILUSTRASI KEKERINGAN - Petani menggali tanah yang kering 

Laporan Wartawan Tribun Jatim Network, Achmad Amru Muiz

TRIBUNJATIM.COM, NGANJUK - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi wilayah Kabupaten Nganjuk memasuki puncak musim kemarau di bulan Agustus hingga September 2021.

Hal itu terjadi karena beberapa faktor, di antaranya posisi gerak semu matahari saat ini berada di utara khatulistiwa sehingga berpengaruh pada penyinaran yang diterima di bumi belahan selatan.

Pengamat Meteorologi dan Geofisika BMKG Kabupaten Nganjuk, Setiyaris menjelaskan, faktor lain yang terjadi saat ini yakni di Australia sedang mengalami puncak musim dingin. Serta hembusan angin monsun Australia atau angin timuran. Apalagi saat ini tengah berada di posisi yang kuat.

“Selain udara yang dingin, saat ini juga sering terjadi angin kecang. Hal ini disebabkan karena perbedaan tekanan udara. Di mana di benua Australia sedang terjadi tekanan udaranya sangat tinggi, sedangkan di benua Asia saat ini tekanan udaranya sangat rendah,” kata Setiyaris dalam talkshow Radio Anjuk Ladang Pemkab Nganjuk, Selasa (3/8/2021).

Seperti diketahui, dikatakan Setiyaris, masa udara itu akan bergerak dari tekanan yang tinggi ke tekanan yang rendah. Dan semakin besar perbedaan tekanan udara, maka semakin mempengaruhi kecepatan udara itu sendiri.

Oleh karena itu, ungkap Setiyaris, pihaknya mengimbau kepada masyarakat Kabupaten Nganjuk untuk berhati-hati terhadap adanya potensi kekeringan dan kebakaran pada musim kemarau tahun ini.

Mengingat pada puncak musim kemarau sekaligus kencangnya hembusan angin yang terjadi di Kabupaten Nganjuk.

"Khususnya di daerah yang rawan kekeringan agar masyaraakt selalu mempersiapkan diri dengan mencanangkan gerakan hemat air. Dan daerah yang rawan kebakaran untuk berhati-hati agar tidak sembarangan bermain api," tandas Setiyaris.

Sementara ditambahkan Pengamat BMKG Nganjuk lainya, Purwo Yuliatmoko mengatakan, untuk terjadinya bencana gemba bumi di Kabupaten Nganjuk berdasar evaluasi kegempaan di Jawa Timur pada bulan Juli 2021 telah terjadi gempa sebanyak 51 kali kejadian.

“Gempa bumi tersebut didominasi oleh gempa bumi dangkal dengan kedalaman kurang dari 60 kilometer (KM) dengan kekuatan magnitudo 3 – 5 skala richter (SR),” kata Purwo Yuliatmoko.

Selain itu, ungkap Purwo Yuliatmoko, pada bulan Juli 2021 ini terjadi dua kali gempa bumi yang dirasakan di wilayah Jawa Timur dan sekitarnya.

Kejadian gempa bumi yang dirasakan pertama terjadi pada tanggal 8 Juli 2021 pukul 18.28 WIB dengan magnitude 4,6 skala richter dan kedalaman 10 kilometer, berlokasi di 108 KM barat daya Kabupaten Lumajang.

Gempa bumi ini dirasakan di Kabupaten Malang dan Lumajang dengan intensitas II sampai III Skala Modified Mercalli Intensity (MMI).

"Kejadian gempa bumi yang kedua terjadi pada tanggal 27 Juli 2021 pukul 23:21 WIB. Magnitude 5 SR dan kedalaman 10 kilometer. Lokasinya di 95 kilometer tenggara Kabupaten Pacitan yang sempat dirasakan hingga di Kabupaten Nganjuk,” tutur Purwo Yuliatmoko. 

Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved