Berita Politik

Marak Baliho Tokoh Politik, Pengamat Ingatkan Tuntutan Lebih Kreatif saat Situasi Pandemi

Polemik munculnya baliho elite politik belakangan ini, masih ramai jadi perbincangan publik. Hal itu lantaran pro kontra masih mengemuka terkait marak

SURYA/FATIMATUZ ZAHROH
Pengamat Politik dari Universitas Trunojoyo Madura, Mochtar W Oetomo, Kamis (24/1/2019). 

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Yusron Naufal Putra

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Polemik munculnya baliho elite politik belakangan ini, masih ramai jadi perbincangan publik. Hal itu lantaran pro kontra masih mengemuka terkait maraknya baliho di sejumlah daerah. 

Pengamat politik yang juga Direktur Surabaya Survey Center (SSC), Mochtar W Oetomo berpandangan memang dalam situasi saat ini, elite politik dituntut 'lebih pintar' menangkap konteks. 

Sebab, satu sisi terkait kepentingan dan isu politik menuju kontestasi tidak bisa dipungkiri. Sementara disisi lain, situasi sosial ekonomi yang belum kondusif lantaran situasi pandemi Covid-19 menjadi lebih sensitif. 

"Jadi, kombinasi yang memungkinkan adalah, bagaimana baliho itu harus diisi dengan materi yang berkaitan dengan sosial ekonomi. Juga akan lebih baik, pasca pemasangan itu juga kemudian ada program lanjutan, tindakan yang berpihak pada publik sesuai dengan situasi dan kondisi," kata Mochtar, Sabtu (7/8/2021). 

Pernyataan dari Mochtar itu lantaran dari segi politik dia menilai hal-hal semacam itu, beredarnya baliho tokoh yang berkaitan dengan kontestasi sulit dipungkiri. 

Sehingga meskipun muncul beragam tanggapan dari publik, nyatanya baliho tersebut tetap dapat dengan mudah dijumpai di ruang publik. 

Apalagi, kompetisi politik menuju 2024 disebut merupakan momentum yang sangat penting bagi tokoh politik.

Hal itu lantaran berkaitan antara memunculkan tokoh dengan tingkat kesuksesan partai politik. 

"Karena sejak 2004 siapapun (partai) yang memiliki Capres-Cawapres, itu cenderung diuntungkan. Logika inilah yang sekarang mendominasi partai, sehingga mereka ramai-ramai memunculkan tokohnya," terangnya. 

Namun, kondisi sosial ekonomi di masa pandemi juga penting untuk diperhatikan selain logika tersebut. Sehingga, Mochtar tak menampik jika dalam kondisi saat ini, memang menuntut para politisi untuk 'lebih kreatif'. 

Kreatifitas itu di antaranya diwujudkan dengan kombinasi dua pandangan tersebut. Sekaligus diikuti dengan aksi nyata pesan yang digembar-gemborkan mereka. Penting diikuti tindakan nyata. 

"Misalnya, baliho mengajak taat protokol kesehatan, pada saat bersamaan harus diikuti dengan program lanjutan seperti pembagian masker, dan sebagainya. Itu akan lebih konstruktif," ungkapnya. 

"Kemudian misalnya, mengimbau harus di rumah saja karena PPKM. Maka harus diikuti dengan program selanjutnya. Yaitu membantu kebutuhan obat, makanan bagi para isoman. Itu kombinasi yang menurut saya bisa menjadi jalan tengah," tuntasnya. 

Sumber: Tribun Jatim
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved