Breaking News:

Berita Batu

Fasilitas Umum di Kota Batu Direncanakan Ramah untuk Difabel, Dewanti: Harus Dipikirkan

Kota Batu perlu memperbaiki fasilitas umum untuk akses bagi difabel, orangtua dan anak-anak. Sejumlah fasilitas umum di Kota Batu masih belum aksesibe

Penulis: Benni Indo | Editor: Ndaru Wijayanto
SURYA/BENNI INDO
Wali Kota Batu, Dewanti Rumpoko mengatakan sejumlah fasilitas umum di Kota Batu belum aksesibilitas terhadap difabel, lansia dan anak. Ke depan, pembangunan fasilitas umum diharuskan memperhatikan aksesibilitas tersebut. 

Laporan Wartawan Tribun Jatim Network, Benni Indo

TRIBUNJATIM.COM, BATU – Kota Batu perlu memperbaiki fasilitas umum untuk akses bagi difabel, orangtua dan anak-anak.

Sejumlah fasilitas umum di Kota Batu masih belum aksesibel, terutama bagi difabel. Hal tersebut diakui Wali Kota Batu, Dewanti Rumpoko.

Dewanti mengatakan, belum maksimalnya aksesibilitas di Kota Batu karena pembangunan terdahulu belum mempertimbangkan keberadaan komunitas difabel. Ia pun mengatakan akan mengakomodir aksesibilitas difabel ke depannya.

“Dulu masih belum memikirkan kondisi orang difabel. Tidak seperti negara-negara maju, tapi ke depan itu yang harus dipikirkan,” ujar Dewanti.

Dewanti mencontohkan, rencana pembangunan Pasar Besar Batu yang salah satu syaratnya harus ramah terhadap difabel, lansia dan anak-anak. Dengan begitu, kelompok difabel, lansia dan anak-anak bisa mengakses Pasar Besar Batu ketika bangunan sudah jadi.

“Insha Allah rencana pembangunan Pasar Besar Batu ramah difabel, lansia dan anak. Di Balaikota sudah akan dibangun, tapi karena kondisi pandemi seperti ini, maka ditunda. Antara lobi dengan pendopo, rencana akan ada lift untuk difabel,” papar Dewanti.

Hal lain yang dipaparkan Dewanti mengenai komunitas difabel ini adalah kuota 1 persen di perusahaan.

Dewanti mengimbau agar perusahaan yang memiliki karyawan lebih dari 100 orang bisa menampung satu orang difabel bekerja di tempatnya.

Pasalnya, juga sudah ada Undang-undang yang mengatur hal tersebut. Yakni Undang-undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas.

Dewanti menggunakan UU tersebut untuk merekrut sejumlah difabel bekerja di Pemkot Batu. Beberapa di antaranya bekerja di ruangan Dewanti.

“Saya minta di tempat-tempat wisata yang mempekerjakan lebih dari 100 orang, bisa mempekerjakan,” harapnya.

Dewanti pun mengatakan difabel bisa mandiri, namun juga ada difabel yang membutuhkan perawatan intensif.

Saat ini, tidak banyak perusahaan di Kota Batu yang bisa memenuhi mandat UU No 8 Tahun 2016 tersebut.

“Difabel yang mandiri itu tergantung kondisinya. Tidak semua difabel tidak mandiri. Di tempat kami bekerja ada beberapa difabel seperti di Dinas Perpustakaan dan juga  Dinas Pendidikan. Tapi memang ada yang mampu rawat,” paparnya.

Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved