Berita Pasuruan

Yayasan Sekolah Konang Temukan Potensi Fauna di Desa Galih Pasuruan, Ada 8 Jenis Satwa Dilindungi

Yayasan Sekolah Konang (Sanggar Belajar Tata Kelola Lingkungan) Probolinggo menemukan sejuklah potensi fauna yang ada di Desa Galih, Kecamatan Pasrepa

Penulis: Galih Lintartika | Editor: Ndaru Wijayanto
SURYA/GALIH LINTARTIKA
Aktivitas dari tim Yayasan Sekolah Konang di Desa Galih, Kecamatan Pasrepan, Kabupaten Pasuruan. 

Laporan Wartawan Tribun Jatim Network, Galih Lintartika

TRIBUNJATIM.COM, PASURUAN - Yayasan Sekolah Konang (Sanggar Belajar Tata Kelola Lingkungan) Probolinggo menemukan sejuknya potensi fauna yang ada di Desa Galih, Kecamatan Pasrepan, Kabupaten Pasuruan.

Potensi fauna di desa terpencil di lereng pegunungan Bromo Tengger ini sangat luar biasa.

Ini menjadi penanda jika kawasan Desa Galih ini masih alami, dan bersih sehingga nyaman ditempati satwa - satwa liar.

Berdasarkan hasil riset dan kajian yang dilakukan Yayasan Sekola Konang beberapa waktu lalu, tim menemukan fauna dari kelas Aves (burung), Herpetofauna (reptil) dan Mamalia. 

Dari 51 jenis burung yang terdata, delapan jenis di antaranya masuk dalam satwa yang dilindungi.

Di antaranya adalah Elang Bido (Spilornis cheela), Elang Hitam (Ictinaetus malaiensis), Glatik Jawa (Lonchura oryzivora).

Ada juga Alap Alap Layang (Falco cenchroides), Alap-alap Sapi (Falco moluccensis), Paok Panca Warna (Pitta guajana), Kipasan Belang (Rhipidura javanica), Celepuk Jawa (Otus angelinae). 

Desa Galih merupakan daerah tengah dari DAS (Daerah Aliran Sungai) Rejoso yang terdiri dari tiga desa, yaitu Desa Galih, Petung, dan Klakah.

Klaster ini merupakan daerah perbukitan dengan ketinggian mencapai 1000 mdpl.

Team Leader Sekola Konang, Panggalih Joko Susetyo, menyatakan riset dan survei ini dilakukan untuk mengkaji keanekaragaman hayati dan nilai jasa lingkungan di desa ini.

Disampaikan dia, potensial kegiatan masyarakat yang cukup tinggi berdampak langsung pada ekosistem yang lebih luas.

Selain itu juga akan berdampak pada kondisi keanekaragaman hayati dan kondisi sosial budaya masyarakat yang bergantung pada hutan. 

"Dampak lain yang juga mempengaruhi keberadaan keanekaragaman hayati dan ekosistemnya berupa keberadaan  kegiatan operasional tambang batu yang mulai merambah wilayah Desa Galih," kata Panggalih Joko Susetyo.

Menurutnya, ancaman terbesar dari Nilai Konservasi Tinggi (NKT) adalah dari perilaku masyarakat, ketidakpedulian terhadap identitas diri dan berubahnya sumber daya alam untuk pemenuhan kebutuhan dasar akibat dialihfungsikan lahan. 

Dibutuhkan pendekatan kepada masyarakat dengan metode SLA (Sustainable Livelihood Approach), pendekatan yang multidisiplin.

"Ide-ide yang mendasari pendekatan tersebut dibangun dari tren pengembangan berkelanjutan gabungan dengan konsep ekonomi masyarakat dan ekologi," jelasnya. 

Pemanfaatan potensi sumber daya alam, lanjutnya, harus dilakukan dengan pemberdayaan masyarakat melalui BumDes. Melalui badan usaha ini, akan menjadi penampung dan perantara pengembangan potensi desa.

Sumber: Tribun Jatim
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved