Berita Probolinggo

Warga Probolinggo Rasakan Fenomena Angin Gending Berikut Penjelasannya

Fenomena angin gending belakangan mulai dirasakan oleh warga baik di wilayah Kabupaten dan Kota Probolinggo.

Penulis: Danendra Kusuma | Editor: Samsul Arifin
Tribun Jatim Network
Fenomena angin gending mulai dirasakan warga Probolinggo, Kamis (26/8/2021). 

Laporan Wartawan Tribun Jatim Network, Danendra Kusuma

TRIBUNJATIM.COM, PROBOLINGGO - Fenomena angin gending belakangan mulai dirasakan oleh warga baik di wilayah Kabupaten dan Kota Probolinggo.

Angin kencang tipe fohn ini bisa berdampak bagi kesehatan, memicu gelombang tinggi, pohon tumbang hingga kekeringan. Karena itu, masyarakat patut waspada.

Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Kota Probolinggo Sugito prasetyo mengatakan, siklus munculnya angin gending terjadi sekitar Juli-September.

Angin gending merupakan salah satu dari 5 ancaman bencana di Kota Probolinggo.

Angin dengan kecepatan 20-30 knot itu, beberapa kali membuat sejumlah pohon tumbang.

"Kami mencatat, setidaknya seminggu ada dua kejadian pohon tumbang karena tersapu angin gending. Akibatnya, sejumlah bangunan rusak dan timbul kemacetan arus lalu lintas," katanya kepada Surya melalui sambungan telepon, Kamis (26/8).

Ia menjelaskan, sesuai petunjuk wali kota, masyarakat diimbau lebih waspada, utamannya terhadap risiko terjadinya pohon tumbang.

Apabila warga mengetahui adanya pohon yang rawan roboh, untuk segera melaporkan ke call center Kota Probolinggo 112.

"Kami bersama stakeholder selalu siap memberikan bantuan dan pelayanan. Sehingga kerugian harta benda dan korban jiwa bisa diminimalisir," urainya.

Angin gending muncul dipengaruhi adanya perbedaan suhu udara antara daerah dataran tinggi dengan dataran rendah atau pesisir.

Angin gending ini juga memiliki sifat panas dan kering sehingga dapat mengganggu kesehatan.

"Kesehatan masyarakat bisa terganggu di kala musim angin gending. Biasanya warga terserang flu, pilek, masuk angin dan batuk. Saya mengimbau agar warga menjaga kesehatannya," terangnya.

"Terlebih lagi, di masa pandemi Covid-19 seperti saat ini. Bisa jadi, faktor alam (angin gending) ini berpengaruh terhadap penularan Covid-19 karena kondisi tubuh sedang tidak bugar," imbuhnya.

Tak hanya itu, lanjut Sugito, angin gending kerap membuat petugas pemadam kebarakan kesulitan menaklukkan api.

Karena kencangnya tiupan angin, api mudah merembet dan makin membesar saat peristiwa kebaran terjadi.

Di sisi lain, ancaman gelombang tinggi pun harus diwaspadai para nelayan. 

Sumber: Tribun Jatim
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved