Breaking News:

Berita Nganjuk

Filosofi Pewayangan Bisa Jadi Relevansi Pemimpin di Nganjuk, Terungkap Dalam Sarasehan Budaya Jawa

Kepemimpinan dalam cerita sejarah diharapkan menjadi relevansi dari para Pimpinan di Pemkab Nganjuk. Hal itu terungkap dalam sarasehan budaya

Penulis: Achmad Amru Muiz | Editor: Ndaru Wijayanto
surya/Achmad Amru
Plt Bupati Nganjuk, H Marhaen Djumadi saat memperhatikan salah satu tokoh wayang kulit dalam Sarasehan Budaya Jawa digelar Pemkab Nganjuk. 

Laporan Wartawan Tribun Jatim Network, Achmad Amru Muiz

TRIBUNJATIM.COM, NGANJUK - Kepemimpinan dalam cerita sejarah diharapkan menjadi relevansi dari para Pimpinan di Pemkab Nganjuk.

Hal itu terungkap dalam sarasehan budaya yang digelar Pemkab Nganjuk dengan mengambil tema "Memetik Nilai Kepemimpinan Komplek dan Ideal melalui Refleksi Budaya Jawa".

Plt Bupati Nganjuk, H Marhaen Djumadi mengatakan, sarasehan Budaya Jawa berdasarkan filosofi kisah pewayangan tersebut hendaknya menjadi relevansi kepemimpinan saat ini.

Dialog Mpu Samgat Anjuk Ladang dan Pu Sindok yang mencerminkan Hastabrata (8 perilaku pemimpin ) diharap menjadi contoh para pemimpin baik OPD, camat dan para Lurah atau Kades.

"Mari naikkan tanah Anjuk Ladang menjadi benar-benar sebagai Tanah Kemenangan. Resapi Asthabrata  tersebut dan jadilah pemimpin yang komplek dan ideal dan benar-benar bermanfaat buat masyarakat," kata Marhaen Djumadi, Jumat (3/9/2021).

Dijelaskan Marhaen Djumadi, banyak sejarah para pemimpin yang tercermin dalam kisah budaya pewayangan.

Termasuk jiwa kepemimpinan yang betul-betul membela dan melindungi rakyat dari ancaman bahaya apapun.

Di mana sebenarnya jiwa kepemimpinan seperti itu yang diharapkan rakyat sekarang ini.

"Untuk itulah, sebagai Pemimpin sekarang ini bisa mencontoh gaya kepemimpinan tokoh sejarah yang baik dan bijaksana melayani rakyatnya," ucap Marhaen Djumadi.

Sementara itu, dalam sarasehan Budaya Jawa yang digelar Pemkab Nganjuk tersebut diawali dengan persembahan 10 menit Wayang Anjuk Ladang oleh Ki Dalang R Mohamad Lutfi Badaralam dalam babak "Kawedharing Asthabrata".

Di mana cerita yang diambil berisi potongan dialog serta petuah Mpu Samgat Anjuk Ladang dengan Raden Pu Sindok sesaat setelah memenangkan pertempuran melawan bala tentara Sriwijaya.

Mpu Samgat Anjuk Ladang menjabarkan Asthabrata (8 delapan laku/sifat kepemimpinan) dalam melayani rakyatnya secara bijaksana yang nantinya harus dijalankan Pu Sindok sebagai seorang pemimpin. 

Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved