Breaking News:

Berita Batu

Permintaan Pangan Meningkat, Kota Batu Harus Bisa Manfaatkan Peluang

Seorang petani milenial asal Kota Batu, Rakhmad Hardiyanto mengaku, kebutuhan pangan meningkat saat ini terutama makanan sehat

Penulis: Benni Indo | Editor: Samsul Arifin
Tribun Jatim Network
Seorang pekerja di Kota Batu sedang memasukan buah kristal ke dalam plastik sebelum dipasok ke beberapa tempat luar kota. Kebutuhan pangan meningkat saat pandemi membuat pengiriman ke luar kota semakin banyak. 

Laporan Wartawan Tribun Jatim Benni Indo

TRIBUNJATIM.COM, BATU – Kebutuhan pangan di masa pandemi sangat penting. Seorang petani milenial asal Kota Batu, Rakhmad Hardiyanto mengaku, kebutuhan pangan meningkat saat ini. Pandemi telah membuat kebutuhan pangan, terutama makanan sehat, diburu orang.

“Saat pandemi ini, satu kesehatan, kedua adalah pangan,” ujar Hardi, Senin (6/9/2021).

Hardi yang seorang petani buah kristal itu menyebut, permintaan pasokan sayur-sayuran dan buah-buahan meningkat hingga hampir 400 persen. Bahkan hasil pertanian masih belum bisa memenuhi permintaan karena tingginya kebutuhan.

“Di sini, permintaan sayur organik meningkat hampir 400 persen. Ada pembeli seperti, supermarket, dan perseorangan yang menggunakan e-commerce. Jambu kristal ini kebutuhan satu ton dalam seminggu ini. Artinya, peluang pertanian jika digerakan profesional marketnya besar. Awal pandemi memang ada masalah distribusi tapi sekarang sudah membaik,” ujarnya.

Menurutnya, peluang ini harus ditangkap dengan baik oleh para petani dan Pemkot Batu. Kebutuhan manajemen pemasaran yang baik sangat penting untuk menunjang kebutuhan permintaan pasar. Pasalnya, hasil pertanian Kota Batu yang merupakan hortikultura sangat banyak diminati pasar.

“Kita harus terus meresonansikan gerakan positif pertanian ini. Di Kota Batu, ada 10 orang Duta Petani Milenial (DPM) dan Duta Petani Andalan (DPA). Ini harus diberdayakan agar mendapatkan hasil terbaik,” katanya.

Anak-anak muda tersebut memiliki kecakapan menangkap permintaan pasar. Alhasil, produk pertanian bisa didesain sesuai permintaan. Menurut Hardi, kelemahan petani di Kota Batu saat ini adalah manajemen pasca panen.

“Tidak ada pekerjaan pasca panen. Jika mereka bisa melakukan kegiatan pasca panen, luar biasa. Kota Batu ini sumber. Ada jeruk, jambu apel, sayur, kopi dan lainnya. Harus ada kolaborasi,” terangnya.

Mengenai pemberdayaan petani muda dan kebutuhan regenerasi ini, Kepala Balai Besar Pelatihan Pertanian Ketindan, Sumardi Noor mengatakan bahwa tongkat estafet para petani generasi tua harus dilanjutkan oleh petani muda. Ia meminta agar anak-anak muda tidak takut menjadi petani. Menurutnya, menjadi petani sangat menjanjikan.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved