Breaking News:

Berita Bisnis

Merger Pelindo Berpotensi Miliki Dampak Efisiensi Bisnis dan Penghematan Biaya

Rencana penggabungan PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) I hingga IV telah diumumkan oleh Kementerian BUMN (Badan Usaha Milik Negara).

Penulis: Fikri Firmansyah | Editor: Ndaru Wijayanto
TribunJatim/Fikri Firmansyah
Aktivitas ekspor - impor di Terminal Petikemas Surabaya - wilayah kerja Pelindo III. 

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Fikri Firmansyah

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Rencana penggabungan PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) I hingga IV telah diumumkan oleh Kementerian BUMN (Badan Usaha Milik Negara).

Erick Thohir selaku Menteri BUMN akan meresmikan merger keempat perusahaan pelat merah di sektor pelabuhan tersebut pada 1 Oktober mendatang.

Keputusan tersebut sendiri dinilai hal yang baik oleh pakar ekonomi pembangunan asal Fakultas Ekonomi Bisnis (FEB) Universitas Airlangga (UNAIR), Nurul Istifadah.

Bagi Nurul, merger itu dapat membawa dampak baik terhadap efisiensi bisnis, namun juga dapat menimbulkan konsekuensi persaingan yang tidak sehat.

Pertama, Nurul menyebutkan, merger Pelindo menjadi sebuah harapan baik bagi efisiensi bisnis di perusahaan sektor jasa kepelabuhanan tersebut.

“Yang diharapkan adalah, keempat perusahaan tadi bisa jadi satu fokus pada strategi yang sama. Selain itu ada hal yang bisa disatukan dan resource sharing, menyebabkan timbulnya efisiensi dan penghematan biaya,” sebut dosen departemen Ilmu Ekonomi UNAIR tersebut. Kamis (9/9/21).

Kata Nurul, dengan menyatunya empat perusahaan menjadi satu, artinya juga keempatnya akan memiliki satu struktur kepemimpinan.

“Kalau selama ini, kebijakan yang diambil dalam proses operasional berbeda, setelah merger nantinya akan memiliki satu hirarki kepemimpinan yang sama, menyebabkan kebijakan yang diambil berfokus pada strategi yang sama pula,” tanggapnya.

Yang kedua, Nurul menyebutkan, setelah merger, Pelindo akan menjadi satu perusahaan besar yang menguasai market share yang besar.

Kendati begitu, dengan mengingat hal itu, lanjut Nurul, bukan tidak mungkin perusahaan yang tergabung dalam BUMN ini mampu mendominasi dan mengakibatkan persaingan yang kurang sehat di bidang jasa kepelabuhanan.

"Dalam posisi sebagai perusahaan dominan yang secara teori menjadi price maker, tentu dibutuhkan sebuah kontrol untuk meredam kemungkinan penentuan harga yang tidak diharapkan.

Sebab itu pula, yang perlu diperhatikan nanti setelah merger, adalah bagaimana kontrol terhadap penetapan tarif oleh Pelindo dalam kondisi tingkat konsentrasi pasar yang tinggi, dan relatif tidak ada pesaing,” jelasnya.

Terakhir, akademisi UNAIR tersebut menyampaikan bahwa tak hanya sampai merger saja, PT Pelindo juga masih memiliki tugas soal proses operasional.

"Yang saya maksud itu PR untuk menyatukan dan menyamakan standarisasi pelayanan, efektivitas sumber daya, dan juga peningkatan kecepatan operasional untuk mencapai efisiensi yang baik,” tutupnya.

Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved