Breaking News:

Berita Blitar

Kisah Perajin Bambu di Trenggalek Menyiasati Pasar, Dulu Ekspor Kini Pilih Lokal

Pasangan suami istri Soekarno (62) dan Bibit Andayani (52) sudah puluhan tahun menekuni usaha pengolahan bambu.

Penulis: Aflahul Abidin | Editor: Ndaru Wijayanto
surya/aflahul abidin
Bibit Andayani saat memotong lembar anyaman bambu sebelum dibentuk untuk suvenir di rumahnya yang penuh ornamen bambu, Rabu (15/9/2021). 

Laporan Wartawan Tribun Jatim Network, Aflahul Abidin

TRIBUNJATIM.COM, TRENGGALEK – Pasangan suami istri Soekarno (62) dan Bibit Andayani (52) sudah puluhan tahun menekuni usaha pengolahan bambu.

Mereka pernah mengalami pahit-manis usaha bisnis tersebut. Bambu yang mereka olah menjadi souvenir dan mebel pernah merambah pasar internasional.

Kini dengan berbagai pertimbangan, mereka memilih berfokus pada pasar dalam negeri.

Pasangan yang tinggal di Desa Wonoanti, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Trenggalek itu memulai bisnis pengolahan bambu pada 1991.

Pada saat itu, pamor Wonoanti menjadi salah satu desa pusat kerajinan bambu di Kabupaten Trenggalek sedang moncer-moncernya.

Berbagai produk dihasilkan, tergantung permintaan pasar. Termasuk Soekarno dan istrinya.

“Dulu pesanan kami sampai luar negeri, sampai AS, Inggris, Italia, Singapura, Malaysia,” kata Bibit, Rabu (15/9/2021).

Produk yang dikirim saat itu berupa kerajinan seperti keranjang tempat bunga.

Ekspor itu berlangsung beberapa tahun hingga 2008. Kondisi pasar yang tak menentu membuat pasangan suami istri itu menghentikan sementara pengiriman produknya.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved