Breaking News:

Putar Otak Pebisnis Aviasi di Masa Pandemi Covid-19, Rambah Dunia Medis hingga Pelayanan Kargo

Pebisnis aviasi harus putar otak di masa pandemi Covid-19, merambah dunia medis hingga pelayanan kargo.

Penulis: Fikri Firmansyah | Editor: Dwi Prastika
Istimewa/TribunJatim.com
Hari Perhubungan Nasional atau Harhubnas 2021 diperingati Politeknik Penerbangan (Poltekbang) Surabaya dengan menggelar acara Talkshow Strategi Bisnis Penerbangan dalam Masa Pandemi di Kampus Poltekbang Surabaya, Kamis (16/9/2021). 

Lebih dari itu, lanjut Ari, pihaknya juga telah menyiapkan heliport emergency unit yang bisa dijangkau di beberapa wilayah. Di antaranya di Bandung, Cikarang, Cikampek, Cirebon dan Banten. Dengan adanya fasilitas ini, maka pengguna bisa mendapatkan pelayanan transportasi dengan cepat untuk mengantarkan pasien langsung menuju rumah sakit.

Selain Heli Madevac, kata Ari, pihaknya juga menyediakan jasa Helicargo, yang menyasar kegiatan pengiriman kargo dengan kapasitas tertentu.

Baca juga: LG PuriCare Wearable Air Purifier untuk Atlet Indonesia Kelas Dunia sebagai Apresiasi Prestasi

"Kami juga ada layanan Helicargo, namun tentu kuotanya terbatas karena ini berbeda dengan airlines. Kami menyasar international player dan local player. Berdasar data di tahun 2020 komoditas yang menggunakan jasa kargo mencapai 550.000-650.000 ton/tahun. Jumlah kargo per hari bisa mencapai 1.500 ton. Di situ kami bisa melihat potensi 15 persen per hari sebesar 225 ton. Ini yang kami jadikan target. Jasa kami biasanya digunakan oleh para pelaku kargo yang memiliki barang yang critical function. Dengan heli kargo, misalnya perjalanan dari Jakarta ke Bandung hanya ditempuh waktu 45 menit saja,” paparnya.

Hal yang sama juga diutarakan oleh PT Lion Parcel.

Menurut Chief Compliance & Network Officer PT Lion Parcel, Victor Ary Subekti, bisnis logistik di masa pandemi sangatlah menguntungkan. Sebab seluruh negara melakukan pembatasan penerbangan secara langsung, sehingga orang banyak menggunakan jasa logistik.

“Sebelum pandemi, semua penggunakan penerbangan 1.350 fligt per day. Namun untuk logistik atau kargo hanya dibatasi bisa memuat 3-5 ton per flight. Nah, setelah pandemi seperti saat ini penerbangan menurun hingga 300-400 flight per day. Namun keperluan logistik bisa dimuat sampai 12 ton per flight. Ini yang menguntungkan sekali buat kami,” ungkap Victor.

Ia mengungkapkan, meskipun penerbangan secara langsung yang mengangkut orang menurun, namun anak perusahaan PT Lion Air Group ini sangat tertolong justru di saat masa pandemi.

“Dalam sistem yang dijalankan PT Lion Parcel mendukung penggunaan teknologi digital 4.0 yang bisa di-update secara real time. Total wilayah yang bisa kami jangkau mencapai 96,1 persen di seluruh Indonesia. Sisanya, kami belum bisa menjangkau karena keterbatasan jaringan di wilayah tersebut,” terang dia.

Di kesempatan yang sama, Kepala Pusat Pengembangan SDM Perhubungan Udara Kemenhub, Heri Sudarmaji menegaskan, penerbangan tidak bisa dipisahakan dari sistem transportasi nasional hingga internasional. Maskapai penerbangan yang menjadi saran transportasi yang cepat dan aman bagi penumpang dan barang terkena dampak pandemi Covid-19. Namun seiring melandainya virus Covid-19 ini, beberapa negara sudah mulai bangkit dan mengoperasionalkan armada penerbangannya, baik tujuan domestik dan internasional.

“Termasuk di Indonesia, yang memang hal ini menjadi kontraproduktif. Di satu sisi ingin masyarakatnya sehat, namun di satu sisi perekonomian harus tumbuh. Maka harus ada antisipasi yang harus kita lakukan sehingga keduanya bisa berjalan dengan baik,” ungkap Heri.

Halaman
123
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved