Breaking News:

Berita Kota Batu

Tuli di Kota Batu Bisa Bekerja dan Berdaya: Kami Dapat Mengembangkan Diri dan Menjadi Mandiri

Tuli di Kota Batu bisa bekerja dan berdaya: Kami dapat mengembangkan diri dan menjadi mandiri seperti yang lain.

Penulis: Benni Indo | Editor: Dwi Prastika
Tribun Jatim Network/Benni Indo
Edi Winarko saat bekerja mengoperasikan komputer di ruang kerja Wali Kota Batu, Dewanti Rumpoko. Edi adalah salah satu pegawai tuli yang bekerja di Balai Kota Among Tani, Rabu (8/9/2021). 

Sejatinya, tawaran tersebut telah diutarakan pada tahun 2018, hanya saja Bagus dan Divia baru bisa bergabung pada Januari 2021.

Berdasarkan data dari Dinas Sosial per Oktober 2020, ada 10 orang difabel yang bekerja di Balai Kota Among Tani. 10 orang tersebut terdiri atas satu seorang pegawai negeri sipil (PNS) yang difabel daksa. Enam orang tuli dan tiga orang difabel daksa lainnya dengan tenaga harian lepas (THL).

Enam orang tuli yang bekerja di Balai Kota Among Tani tersebut tersebar di Dinas Sosial sebanyak dua orang, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan satu orang, Dinas Pendidikan satu orang dan di ruang kerja Wali Kota Batu, dua orang. Sedangkan jumlah keseluruhan difabel di Kota Batu sesuai data yang tercatat di Dinsos sebanyak 679 per Oktober 2020.

“Saat itu saya kaget langsung ditawari bekerja di Balai Kota Among Tani. Aduh kaget sekali, tapi senang,” ujar Bagus, Selasa (7/9/2021).

Sebelumnya, Bagus bekerja sebagai tukang cuci sepeda motor di tempatnya tinggal, Desa Oro-oro Ombo. Ia bekerja di sana selama lima tahun. Lalu bergabung dengan komunitas Shining Tuli Batu.

Sehari-hari, Bagus membuat laporan program yang ada di bidangnya. Belakangan, ia sering membuat laporan dampak sosial akibat berlangsungnya kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di Kota Batu.

“Awal kerja saya takut dan malu, namun sekarang mulai terbiasa. Bahkan sekarang sibuk sekali karena banyak yang diketik. Bahkan beberapa orang sering minta tolong, saya jadi tidak fokus,” katanya lalu diikuti tawa kecil.

Menurutnya, hal tersebut wajar. Pasalnya, ia harus bekerja dan berinteraksi dengan orang-orang yang bukan tuli. Komunikasi memang menjadi kendala, karena tidak semua pegawai di Dinas Sosial Kota Batu bisa bahasa isyarat. Bagus berkomunikasi dengan memperhatikan gerak bibir lawan bicaranya.

Ia cukup percaya diri bisa mengerjakan apa yang ditugaskan. Tidak ada kendala selama instruksi yang diberikan cukup jelas. Jika instruksi tersebut tidak bisa disampaikan secara isyarat atau lisan, bisa melalui teks. Menurutnya, tuli bisa berkembang dan bekerja. Hanya perlu akses dan fasilitas saja untuk mengembangkan kemampuan tuli di dunia kerja.

Baca juga: Keberadaan Pegawai Difabel di Balai Kota Among Tani Kota Batu Harus Jadi Contoh Institusi Lain

Hal itu juga disetujui Divia. Kesempatan bekerja di Dinas Sosial telah menumbuhkan kepercayaan dirinya sebagai seorang tuli. Menurutnya, tidak sedikit tuli yang masih malu bahkan takut untuk bisa bekerja di sektor pelayanan publik, meski sebenarnya kesempatannya terbuka lebar.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved