Breaking News:

Berita Malang

Para Tokoh di Malang Pertanyakan Urgensi Wacana Pergantian Nama Jadi Kabupaten Kepanjen

Kritikan terhadap wacana penggantian nama Kabupaten Malang menjadi Kabupaten Kepanjen bermunculan.

Penulis: Erwin Wicaksono | Editor: Ndaru Wijayanto
surya/erwin wicaksono
Potret Pendopo Panji di Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang. 

Laporan Wartawan Tribun Jatim Network, Erwin Wicaksono

TRIBUNJATIM.COM, MALANG - Kritikan terhadap wacana penggantian nama Kabupaten Malang menjadi Kabupaten Kepanjen bermunculan.

Anggota Komisi I DPR RI dapil Malang Raya, Kresna Dewanata Phrosakh beranggapan jika nilai historis Kabupaten Malang begitu kental sehingga sangat disayangkan jika dirubah.

"Secara pribadi sangat disayangkan, kita tahu sendiri jika usia Kabupaten Malang ini sudah ribuan tahun. Urgensi untuk merubah nama tersebut apa yang menyebabkan dirubah," beber Dewa ketika dikonfirmasi.

Dewa berpendapat pergantian nama tersebut merupakan urusan yang tidak seberapa mendesak.

"Kalau Malang ya Malang Raya, saya tidak sepakat jika diganti nama, perlu diketahui apa latar belakang pergantian nama tersebut," beber Dewa.

Dewa cenderung lebih setuju realisasi pemekaran wilayah, ketimbang pergantian nama Kabupaten Malang jadi Kabupaten Kepanjen.

Pada skema pemekaran bagian utara Kabupaten Malang diwacanakan menjadi Kabupaten Singhasari, yang terdiri dari delapan kecamatan, yakni Poncokusumo, Tumpang, Jabung, Pakis, Lawang, Tajinan, Karangploso, dan Singosari.

"Perlu diketahui apa yang menjadi landasan dasar untuk mengganti nama itu, saya lebih sepakat pemekaran wilayah yang sempat menjadi perbincangan berbagai kalangan di tahun 2015 silam," tutupnya.

Di sisi lain, Budayawan Malang Raya, Dwi Cahyono pergantian nama Kabupaten Malang bisa merusak pakem budaya.

Dwi menelaah bahwa Kabupaten Malang muncul sejak berabad-abad lalu di masa kerajaan dengan nilai historis yang tinggi.

"Nama Malang itu merupakan suatu daerah kecil yang dijadikan tempat berburu, yang ada sebuah gunung bernama gunung Malang, peta tepografi tahun 1811 masih menyebutnya gunung Malang, gunung itu saat bernama gunung Buring," kata pria yang juga merupakan arkeolog dan sejarawan Universitas Negeri Malang itu.

Dwi berpesan agar wacana tersebut ditelaah kembali secara mendalam.

"Wacana itu kan dilontarkan formal dan ditujukan pada pusat, wacana itu ya serius bukan sekadar slengekan. Oleh karena itu ini harus ditanggapi serius," jelasnya.

Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved