Breaking News:

Berita Trenggalek

Wabup Trenggalek Ajak Guru Agama Islam Cetak Agen Milenial Moderasi Beragama

Wakil Bupati Trenggalek Syah Muhamad Natanegara mengajak para guru mencetak generasi muda sebagai agen milenial moderasi beragama.

Penulis: Aflahul Abidin | Editor: Ndaru Wijayanto
surya/aflahul abidin
Wabup Trenggalek Syah M Natanegara saat membuka pembinaan Guru Pendidik Agama Islam (GPAI) jenjang SMP di Kantor Kemenag Trenggalek, Selasa (28/9/2021). 

Laporan Wartawan Tribun Jatim Network, Aflahul Abidin

TRIBUNJATIM.COM, TRENGGALEK - Wakil Bupati Trenggalek Syah Muhamad Natanegara mengajak para guru mencetak generasi muda sebagai agen milenial moderasi beragama.

Hal itu ia sampaikan ketika membuka pembinaan Guru Pendidik Agama Islam (GPAI) jenjang SMP di Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Trenggalek, Selasa (28/9/2021).

Sebagai tenaga pendidik, kata Syah, para guru agama Islam harus mampu mengedepankan nilai toleransi beragama kepada para siswa didik sejak dini. Hal ini ia disebut sebagai langkah moderasi beragama.

“Maka saya meminta para guru untuk memiliki suatu kekhasan pelajaran atau kurikulum demi menanamkan nilai toleransi beragama tersebut bagi masing-masing siswa didiknya,” ujar Syah.

Dengan demikian, mereka tidak hanya mengajar secara rutin sesuai kurikulum yang telah ditetapkan saat ini. Namun juga mereka harus mampu menggali kekhasan hasanah budaya keislaman lokal setempat.

"Kita harus mencetak agen milenial keberagaman beragama ini. Kita juga harus mampu menjadikan anak-anak SMP kenal moderasi beragama. Setelah di SMP kenal, maka hal itu akan mereka bawa sampai SMA atau jenjang lebih tinggi,” sambung dia.

Selain itu, Syah juga berpesan agar para guru agama Islam mendorong penguatan pendidikan karakter siswa didik di masa pandemi Covid-19. Hal itu untuk mengindari perubahan pola perilaku siswa didik akibat terlalu lama belajar di rumah secara daring.

Misalnya, perubahan penampilan anak yang menirukan budaya kebebasan yang berasal dari luar negeri. 

Untuk itu Syah berharap agar para guru sebagai pengasuh dan pendidik mampu menanamkan budaya lokal kepada mereka.

"Jangan sampai anak ini kehilangan, kita harus mampu memberikan batasan-batasan. Kita harus mampu memberikan pengertian bahwa kebudayaan yang berada di luar kita itu tidak semuanya jelek. Tapi juga tidak semuanya pantas kita adopsi dan kita praktikkan di kehidupan kita sehari-hari," sambung dia.

Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved