Breaking News:

Berita Kota Batu

Lapangan Stadion Brantas Jadi Tempat Relokasi Pedagang, PSSI Kota Batu Wadul ke Dewan

Lapangan Stadion Brantas jadi tempat relokasi sejumlah pedagang, PSSI Kota Batu wadul ke dewan. Banyak pihak merasa dirugikan.

Penulis: Benni Indo | Editor: Dwi Prastika
Tribun Jatim Network/Benni Indo
Pemasangan tiang bambu yang digunakan untuk saluran penerangan di lapangan Stadion Brantas, Kota Batu. Kondisi ini mendapat penolakan dari PSSI Kota Batu karena mereka menilai kesepakatan awal, lapangan tidak menjadi lahan relokasi pedagang, Senin (1/11/2021). 

Laporan Wartawan Tribun Jatim Network, Benni Indo

TRIBUNJATIM.COM, KOTA BATU - Pengurus Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) Kota Batu menyalurkan aspirasi ke DPRD Kota Batu terkait penggunaan lapangan di Stadion Brantas untuk menampung pedagang pagi sebagai tempat relokasi.

Komite Hukum dan Advokasi Kayat bersama anggota PSSI Kota Batu bertemu dengan anggota DPRD Kota Batu, Didik Machmud dan Sudiono di ruang kerja Ketua DPRD Kota Batu, Senin (1/11/2021).

Kayat mempertanyakan mengapa rumput stadion digunakan. Padahal, sesuai kesepakatan awal, rumput stadion tidak digunakan.

"Kami sudah memberikan solusi di barat stadion, 19 pedagang pagi sudah sepakat. Tetapi entah kenapa rumput stadion digunakan," ujarnya.

PSSI Kota Batu dan Pemkot Batu melalui Dinas Koperasi, Usaha Mikro dan Perdagangan pada kesepakatan awal berkomitmen tidak menggunakan bagian lapangan untuk tempat relokasi. Kalaupun terpaksa, menurut Kayat, Pemkot Batu wajib membuat DED perencanaan pembangunan stadion ke depannya. 

"Seperti apa pembangunannya, bisa ratusan juta anggarannya. Kami tidak ingin menghendaki setengah-setengah pembangunannya. Rekom Kemenpora mengatakan bahwa wali kota memiliki tanggung jawab mencarikan lapangan pengganti. Kalau tidak ada lapangan pengganti, diberikan anggaran untuk menyewa di tempat representatif," paparnya.

Lapangan representatif itu antara lain Stadion Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), lapangan Agro Wisata, dan Stadion Gajayana.

Untuk menggunakan lapangan yang representatif itu, perlu anggaran pada 2021 ini. Di sisi lain, dampak negatif atas digunakannya stadion, adalah dibatalkannya Kota Batu sebagai tuan rumah kompetisi sepak bola junior. 

"Yang jelas kami punya tim U-13, U-15 dan U-17. Kami tidak bisa melaksanakan itu. Semuanya batal sebagai tuan rumah. Tidak bisa tuan rumah untuk sepak bola apapun. Kami harus mencari di luar kota," katanya.

Baca juga: ABK Kota Batu Tertahan di Guam, Tinggalkan Istri Hamil hingga Anak Berumur 1,5 Bulan: Ingin Pulang

Didik Machmud menuding Dinas Koperasi, Usaha Mikro dan Perdagangan tidak memegang komitmen yang telah disepakati di awal. 

"Intinya kami menerima aspirasi dari PSSI karena mereka terkejut tiba-tiba rumput di stadion dipakai tanpa konfirmasi. Bahwa hasil rapat terakhir dengan Diskoperindag di dewan, stadion dipakai untuk sentel ban. Di tengah itu tidak ada, maka dasarnya apa di tengah itu dipakai? Dulu ditanya apakah sudah cukup, jawabnya sudah cukup. Tapi sekarang ada penambahan, jadi sebenarnya jumlah pedagang berapa?" ungkapnya.

Didik mendesak agar Diskoperindag mempertimbangkan kembali penggunaan lapangan. Pasalnya, banyak pihak yang dirugikan. Tidak hanya atlet PSSI, tetapi juga atlet lainnya. Bahkan para pelajar yang sekolahnya berada di dekat stadion.

Sore ini, PSSI dan Wali Kota Batu, Dewanti Rumpoko berdialog membahas persoalan ini. Dialog masih berlangsung hingga saat ini.

Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved