Breaking News:

Berita Kabupaten Malang

Profauna Memprediksi Reboisasi di Kawasan Lereng Gunung Arjuno Memakan Waktu 4 Tahun: Paling Cepat

Profauna memprediksi reboisasi di kawasan lereng Gunung Arjuno Jawa Timur memakan waktu 4 tahun, Rosek Nursahid: Paling cepat.

Penulis: Erwin Wicaksono | Editor: Dwi Prastika
Istimewa/TribunJatim.com
Potret alih fungsi lahan di kawasan lereng Gunung Arjuno, Cangar, Batu. Lahan tersebut semula adalah hutan dan kini terkikis dengan keberadaan lahan sayur, 2021. 

Laporan Wartawan Tribun Jatim Network, Erwin Wicaksono

TRIBUNJATIM.COM, MALANG - Profauna Indonesia telah memetakan kerusakan alam yang diduga menjadi penyebab banjir bandang di Kota Batu.

Organisasi pegiat lingkungan tersebut memprediksi, upaya reboisasi baru bisa membuahkan hasil dengan durasi lebih dari 3 tahun.

"Paling cepat untuk reboisasi itu selama 4 tahun," ujar Ketua Profauna Indonesia, Rosek Nursahid ketika dikonfirmasi, Senin (8/11/2021).

Rosek menganalisa, wilayah sepanjang lereng Gunung Arjuno saat ini sebagian besar telah kehilangan fungsinya sebagai hutan lindung.

Alih fungsi hutan menjadi lahan sayur disebut-sebut jadi biang kerok rusaknya fungsi hutan lindung sebagai penyerap air ke dalam tanah. Bahkan, sebaran kerusakan hutan sudah begitu masif.

"Kalau luasan hektarenya kami harus mengeceknya secara detail lagi. Namun saya berani mengatakan, lereng Gunung Arjuno arah Batu-Cangar saya kira 90 persen sudah beralih fungsi. Juga termasuk wilayah Sumber Brantas, Bumiaji (Batu) sampai Karangploso (Kabupaten Malang) bahkan hingga Lawang," ujar Rosek.

Selain alih fungsi hutan, rentetan peristiwa kebakaran yang terjadi di lereng Gunung Arjuno pada beberapa tahun silam berimplikasi pada kejadian banjir bandang saat ini.

Baca juga: Usai Tinjau Kawasan Hulu, BNPB Ungkap Penyebab Banjir Bandang di Kota Batu: Bendung Alam

"Tahun 2019 kebakaran, dan tidak ada penanaman lagi. Kemudian sama petani ditanam sayur. Betul bahwa rentetan peristiwa yang terjadi pada 2019 diduga berimplikasi pada kejadian kali ini (banjir), ada korelasinya. Alamlah yang bertindak saat ini," sebutnya.

Rosek mengingatkan betapa pentingnya keseimbangan ekosistem dan pelestarian hutan. Ia mengungkap fungsi-fungsi vital sebuah hutan lindung terhadap kehidupan manusia.

"Kami telah menyusuri tempat yang diduga menjadi sumber masalah (banjir bandang). Kesimpulan sementara hutan lindung dan hutan produksi sudah ditanami banyak sayur. Terutama hutan lindung, yang harusnya jadi tegakan yang menyerap air dan longsor malah ditanami sayur. Sehingga tidak ada sistem penyerapan air ke dalam tanah yang baik. Di beberapa tempat juga ada bekas kebakaran hutan yang memicu kurang baiknya penyerapan air tersebut," katanya.

Menyikapi kerusakan alam yang sudah terlanjur terjadi, Rosek menyatakan pihaknya tidak hanya berteori, namun melakukan aksi nyata pemulihan fungsi hutan linding.

"Kami sekarang mendampingi petani setempat agar menanam pohon-pohon buah-buahan. Seperti alpukat dan nangka. Selain bisa menjadi upaya reboisasi, petani masih bisa memetik ekonomi dari panen buah," tutupnya.

Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved