Breaking News:

Berita Malang

Ada Silang Pendapat Soal Kondisi Hutan Antara Bupati Malang dengan Aktivis Lingkungan

Kondisi hutan di wilayah Kabupaten Malang ditanggapi berbeda oleh Bupati Malang, Muhammad Sanusi dan beberapa aktivis pegiat lingkungan.

Penulis: Erwin Wicaksono | Editor: Ndaru Wijayanto
surya/erwin wicaksono
Potret alih fungsi hutan di wilayah Kabupaten Malang. 

Rosek mengingatkan betapa pentingnya keseimbangan ekosistem dan pelestarian hutan. Ia mengungkap fungsi-fungsi vital sebuah hutan lindung terhadap kehidupan manusia.

"Kami telah menyusuri tempat yang diduga menjadi sumber masalah (banjir bandang). Kesimpulan sementara hutan lindung dan hutan produksi sudah ditanami banyak sayur. Terutama hutan lindung, yang harusnya jadi tegakan yang menyerap air dan longsor malah ditanami sayur. Sehingga tidak ada sistem penyerapan air ke dalam tanah yang baik. Di beberapa tempat juga ada bekas kebakaran hutan yang memicu kurang baiknya penyerapan air tersebut," katanya.

Menyikapi kerusakan alam yang sudah terlanjur terjadi, Rosek menyatakan pihaknya tidak hanya berteori namun melakukan aksi nyata pemulihan fungsi hutan linding.

"Kami sekarang mendampingi petani setempat agar menanam pohon-pohon buah-buahan. Seperti alpukat dan nangka. Selain bisa menjadi upaya reboisasi, petani masih bisa memetik ekonomi dari panen buah," tutupnya.

Pendapat serupa mengenai adanya indikasi kerusakan alam di Kabupaten Malang juga disampaikan oleh Founder Lembaga Konservasi Sahabat Alam Indonesia (SALAM), Andik Syaifudin.

Menurutnya, wilayah-wilayag lereng pegunungan di Kecamatan Ngantang, Pujon, Kasembon dan Poncokusumo juga harus diperhatikan kelestarian alamnya.

"Berkaca pada contoh kejadian (Kota) Batu, Kabupaten Malang agar mengantisipasi dalam hal mitigasi dan adaptasi daerah-daerah rawan bencana. Agar tidak merasa baik-baik saja, atau bahkan lengah seperti di Batu," beber Andik.

Menurut Andik, maraknya alih fungsi hutan menjadi lahan non hutan juga harus disikapi tegas oleh pemerintah.

"Contohnya wilayah Kasembon-Ngantang kerapkali banjir, bahkan beberapa tahun lalu sampai ada jembatan putus. Banjir bandang di Desa Selorejo Dau tahun lalu juga menyebabkan jembatan yang baru dibangun juga putus, itu kemungkinan dari hulu Panderman. Pujiharjo banjir juga karena daerah atas (hulu) beralih fungsi," sebut Andik.

Menurut Andik, mitigasi bencana pada jauh-jauh hari seperti melakukan reboisasi jauh lebih efektif.

"Pada dasarnya mitigasi bencana sebetulnya lebih murah dan mudah, sayang kebanyakan orang bakal lebih memilih rekonstruksi pascabencana yang sulit dan rumit," tutur Andik.

Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved